Komunikasi Suami Istri (Bagian satu)

Belajar dari Rasul dan Khadijah

Kebersamaan bertahun-tahun, siang dan malam, ternyata bukan jaminan terjalinnya komunikasi yang baik antara suami dan istri. Padahal banyak yang berdalih bahwa pendekatan sebelum menikah mampu saling mengenal dan komunikasi yang baik sebelum memasuki jenjang yang lebih serius; pernikahan. Padahal alat komunikasi pun sudah super canggih. Jarak bukan masalah. Hanya fisik yang tidak bisa saling bersentuhan. Tetapi kalimat, suara bahkan wajah pun bisa dihadirkan walau jauh terpisah. Tetapi tetap saja, komunikasi macet. Aneh….

Berbagai pelatihan komunikasi menjadi sangat penting bagi keluarga. Berhari-hari, bahkan tidak sekali, pelatihan komunikasi diikuti. Berbagai metode dan pendekatan dilakukan. Tapi, belum juga….

Komunikasi terbaik yang sangat dahsyat adalah komunikasi manusia terbaik dengan keluarga terbaik. Rasulullah dengan para istrinya. Tanpa alat komunikasi, jika mereka berpisah secara fisik, akan menghilang sekian lama tanpa berita. Tanpa pelatihan berbelit dengan konsep rumit yang terkadang semakin membuat seseorang salah tingkah. Bahkan tanpa pendekatan sebelum menikah yang diklaim mampu mengawali komunikasi yang baik. Sudah waktunya, kita belajar dari komunikasi Rasulullah dalam rumahtangga beliau.

DR. Jasim al Muthowwa’ seorang pakar parenting asal Kuwait membagi komunikasi Nabi menjadi dua bagian besar: Komunikasi kata dan komunikasi tanpa kata. Pakar dengan karya ilmiah S2 nya berjudul: rahasia rumahtangga dalam perspektif Al Quran dan Sunnah itu, menganalisa berbagai pola komunikasi Nabi dengan para istri dalam berbagai keadaan.

Komunikasi kata pertama adalah antara Nabi dengan istri yang mendukungnya sepenuh jiwa dan hartanya. Pasangan hidup yang membuat istri sehebat Aisyah cemburu dan berkata: Seperti tidak wanita lain di dunia ini selain Khadijah!

Kita akan melihat kecerdasan dan kecerdikan seorang istri berkomunikasi dengan suami yang sedang berada dalam kepanikan karena peristiwa yang dihadapinya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim serta Musnad Ahmad disampaikan tentang keadaan Nabi saat baru menerima wahyu pertama di Gua Hira’,Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam pulang ke Khadijah dalam keadaan gemetar fisik dan hatinya. Beliau masuk dan berkata: selimuti aku, selimuti aku…

Ketika telah mulai tenang, beliau berkata: Khadijah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah.

Khadijah berkata: Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahim, menanggung beban, memuliakan tamu dan membantu orang yang kesulitan.

Khadijah kemudian membawanya ke Waraqah bin Naufal bin Asad. Dia adalah seseorang yang memeluk agama Nasrani. Sudah tua dan buta, mampu membaca dan menulis Injil dengan Bahasa Arab.

Khadijah berkata kepada Waraqah: Hai paman, dengarkanlah kisah anak saudaramu ini.

Waraqah berkata: Hai anak saudaraku, apa yang kamu lihat?

Rasulullah menceritakan yang dilihatnya.

Waraqah berkata: Ini Namus (Jibril) yang pernah turun kepada Musa. Andai aku punya usia panjang, nanti saat kamu diusir dari oleh masyarakatmu.

Rasulullah bertanya: Apakah mereka akan mengusirku?

Waraqah menjawab: Ya, tidaklah ada orang yang membawa seperti yang kau bawa kecuali akan dimusuhi dan disakiti. Jika aku masih menjumpai hari itu, aku akan menolongmu dengan pertolongan yang besar.

Khadijah benar-benar wanita ideal. Satu dari empat wanita terbaik di dunia ini. Istri yang sangat mengerti bagaimana mendampingi tugas besar sang suami. Jika para muslimah mau menjadi yang paling berharga dalam kehidupan suami, maka Khadijah adalah tempat berguru. Di antaranya, kiprah Khadijah dalam hadits di atas. Situasi suami yang panik dan khawatir atas keselamatan dirinya, mendapatkan siraman embun dalam dekapan sang istri. Inilah makna dari ayat,

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (Qs. Ar Rum: 21)

Jika seorang suami benar-benar merasakan kehadiran istri dalam kehidupannya, terutama saat sulit yang harus dilaluinya. Dalam rumah yang juga menjadi tempat kenyamanan. Maka, pasti seorang suami akan bisa merasakan kehadiran Khadijah dalam kehidupannya.

Dalam pembahasan kita ini, lisan seorang istri ternyata menjadi salah satu sumber utama kenyamanan suami. Maka, jangan justru menjadikan lisan sumber masalah dalam rumahtangga.

Mari kita dalami tehnik komunikasi hebat seorang istri di saat suami sedang panik dan khawatir. Belajar dari Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu anha

Suami yang khawatir dan panik, sering tergambar jelas di wajah dan suaranya, untuk kemudian disampaikan melalui lisan patah-patah. Maka,

1. Khadijah memahami

Komunikasi yang baik dibangun di atas kepekaan terhadap pasangan. Mungkin tidak terucap. Bahkan mungkin tidak mampu diucapkan. Terlalu berat. Tetapi pasangan yang baik, adalah pasangan yang mampu mengetahui bahkan belum diberitahu. Mampu merasa walau hanya dikirimkan melalui gelombang halus kata.

2. Khadijah menyelimuti

Seseorang yang tidak nyaman, biasanya terlihat begitu jelas pada mata, wajah dan gerak fisiknya. Untuk itulah, pasangan harus memberikan kenyamanan pada fisik sebelum yang lainnya. Karena sekarang, fisik lah yang paling memerlukan kenyamanan. Dan memberikan kenyamanan fisik jauh lebih sederhana.Khadijah menyelimuti seperti permintaan Rasulullah. Dekapan hangat kain yang dibentangkan oleh sang istri memberikan kehangatan yang diharapkan mampu menembus hingga hati. Dekapan pasangan juga merupakan kenyamanan yang tidak ada gantinya.

3. Khadijah menenangkan dengan kalimat

Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya, begitulah Khadijah menyamankan suaminya.Menyandarkan kenyamanan kepada Allah bagi orang-orang beriman merupakan puncak kenyamanan dan kepasrahan. Sehingga kegelisahan itu akan cepat sekali pergi.

4. Khadijah memuji untuk meyakinkan

Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahim, menanggung beban, memuliakan tamu dan membantu orang yang kesulitan. Kalimat yang mengalir jujur dan bukan basa-basi. Menyejukkan hati yang sedang panas. Menenangkan jiwa yang sedang gemetar. Memantapkan keyakinan akan pertolongan Allah.

5. Khadijah mencari solusi nyata

Khadijah kemudian membawanya ke Waraqah bin Naufal bin Asad. Dia adalah seseorang yang memeluk agama Nasrani. Sudah tua dan buta, mampu membaca dan menulis Injil dengan Bahasa Arab.

Poin satu hingga empat adalah kemampuan seorang istri yang hebat dalam menghantarkan ketenangan bagi sang suami yang sedang dalam kepanikan. Tetapi harus diakui bahwa sesungguhnya permasalahan intinya belum terjawab. Tetapi ketenangan itu sudah mulai merayapi setiap persendian sang suami.

Maka, setelah semuanya tenang kembali, solusi itu dicari kepada ahlinya.

Istri yang cerdas. Komunikasi yang indah antara sepasang suami istri terbaik.