Terpana

كَانَ الْفَضْلُ بْنُ عَبَّاسٍ  رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَرَفَةَ ، قَالَ : فَجَعَلَ الْفَتَى  يَلْحَظُ النِّسَاءَ ، وَيَنْظُرُ إِلَيْهِنَّ ، قَالَ : وَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْرِفُ وَجْهَهُ بِيَدِهِ مِنْ خَلْفِهِ مِرَارًا ، قَالَ : وَجَعَلَ الْفَتَى يُلَاحِظُ إِلَيْهِنَّ ، قَالَ : فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “” ابْنَ أَخِي إِنَّ هَذَا يَوْمٌ مَنْ مَلَكَ فِيهِ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَلِسَانَهُ غُفِرَ لَهُ “”

Fadhl bin Abbas membonceng Rasulullah SAW pada hari Arafah. Fadhl yang saat itu masih sangat muda memandang dan mengawasi para wanita di Arafah. Maka Rasulullah SAW berkali-kali menggerakkan tangannya untuk memalingkan wajah Fadhl dari memandang mereka. Namun Fadhl berkali-kali memandang ke arah mereka lagi. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Anak saudaraku, pada hari ini barang siapa mampu mengendalikan pendengaran, penglihatan, dan lisannya, niscaya ia akan diampuni Allah.” (HR. Ahmad, Ibnu Sa’ad, Abu Ya’la, Ibnu Khuzaimah, Ath-Thabarani, dan Al-Baihaqi. Hadits dha’if)

Dalam hadits yang lain,

أَنَّ الْفَضْلَ بْنَ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما كَانَ رَدِيفَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْحَجِّ فَجَاءَتْهُ الْخَثْعَمِيَّةُ تَسْتَفْتِيهِ , فَأَخَذَ الْفَضْلُ يَنْظُرُ إلَيْهَا وَتَنْظُرُ هِيَ إلَيْهِ , فَصَرَفَ عليه الصلاة والسلام وَجْهَ الْفَضْلِ عَنْهَا

“”Suatu ketika, al-Fadhl ibn ‘Abbâs membonceng Nabi SAW pada saat haji, lalu datang seorang wanita dari Khats‘am. Al-Fadhl lantas memandang wanita itu dan wanita itu pun memandangnya. Maka Rasulullah memalingkan wajah Fadhl ke arah yang lain.“” (HR. al-Bukhârî dari Ibn Abbas)

Bahkan pada hadits yang diriwayatkan oleh ‘Alî ibn Abî Thâlib RA ada tambahan:

قال العبّاس: يا رسول الله لِمَ لويت عنق ابن عمّك؟ فقال: “” رأيت شاباً وشابة فلم ءامن الشيطان عليهما””

Al-‘Abbâs RA kemudian bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, mengapa engkau memalingkan leher sepupumu?” Rasulullah SAW menjawab, “Karena aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi yang tidak aman dari gangguan setan.

Bunda ayah…Al Fadl bin Abbas adalah sepupunya Rasulullah. Ia adalah anak dari Abbas bin Abdul Muthalib, pamannya Rasulullah. Di dalam beberapa riwayat di sebutkan bahwa ia memiliki wajah yang tampan rupawan. Ia terpana melihat seorang wanita Khats’am yang berparas cantik. Begitu pula sebaliknya, wanita Khats’am itu pun seolah terpesona melihat Al Fadl. Kejadian itu terjadi di saat Rasulullah membonceng Al Fadl. Menyadari kondisi di mana sepupunya Al Fadl yang masih muda belia itu saling memandang dengan seorang gadis cantik, Rasulullah pun menggerakkan tangannya untuk memalingkan wajah Al Fadl ke tempat lain. Tapi ternyata kejadian itu berulang. Al Fadl kembali memperhatikan wanita tersebut. Lalu Rasul pun mengulangi tindakannnya. Setelah beberapa kali lalu Rasul pun berucap,

ابْنَ أَخِي إِنَّ هَذَا يَوْمٌ مَنْ مَلَكَ فِيهِ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ وَلِسَانَهُ غُفِرَ لَهُ

“”Anak saudaraku, pada hari ini barang siapa mampu mengendalikan pendengaran, penglihatan, dan lisannya, niscaya ia akan diampuni Allah.

Rasulullah tidak marah kepada Al Fadl, tapi Rasulullah memberikan sebuah peringatan dengan sangat lembut. Bahkan memulainya dengan sebuah panggilan khusus yang menggambarkan kedekatan dan rasa sayangnya dengan Al Fadl. ابْنَ أَخِي”” . Seringkali Rasulullah ketika akan memberikan sebuah nasehat kepada orang-orang dekatnya menggunakan sebuah panggilan khusus yang menggambarkan kedekatannya. Ini adalah sebuah jembatan untuk melunakkan hati orang yang mendengarnya. Ini pun untuk menggambarkan betapa apa yang di sampaikan Rasulullah adalah bagian dari rasa sayang beliau kepada keluarganya. Tapi ucapan berikutnya yang di sampaikan Rasul adalah sebuah proses pembelajaran yang sangat luar biasa.

“”pada hari ini barang siapa mampu mengendalikan pendengaran, penglihatan, dan lisannya, niscaya ia akan diampuni Allah.

Bunda ayah….Seolah Rasul ingin mengatakan kepada Al Fadl, bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa mu nak, bukan karena engkau adalah saudaraku yang aku sayangi dan bukan karena kedekatanmu denganku, tapi karena engkau hari ini bisa menjaga pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu.

Abdullah bin Abbas yang melihat kejadian itu pun bertanya kepada Rasulullah, mengapa ia berulang kali memalingkan wajah Al Fadl, Rasul pun menjawab, “Karena aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi yang tidak aman dari gangguan syaitan.

Bunda ayah….susah ya? Hari ini ada internet di mana anak kita bisa chatting, FB-an, mau saling memandang bisa lewat video chat dan video call. Belum lagi media televisi dan informasi yang sering kali menyajikan acara tanpa memikirkan aspek moralitas. Menyebabkan semakin tersamarlah nilai-nilai syari’at yang memberikan batasan tentang hubungan antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya.

Bunda ayah.., ini memang zaman yang berbeda dengan masa di mana Al Fadl hidup bersama Rasulullah. Tapi secara esensi prilaku tetap sama, hanya saja teknologi memfasilitasinya menjadi lebih mudah. Kita pun masih bisa menggunakan solusi yang di berikan oleh Rasulullah.

Inspirasi Mengalihkan Pandangan

Bunda ayah, mengalihkan perhatian dan pandangannya ke tempat lain adalah bagian dari solusi yang bisa kita lakukan pada hari ini. Memberikan anak kita, satu aktivitas baru yang sangat ia minati, apalagi ia tertantang untuk berprestasi di dalamnya adalah bagian dari solusi untuk mengalihkan ia kepada hal yang positif.

Inspirasi Dialog Cinta

“”Anak saudaraku, pada hari ini barang siapa mampu mengendalikan pendengaran, penglihatan, dan lisannya, niscaya ia akan diampuni Allah.
Kalimat ini memberikan kita inspirasi tentang dialog nilai. Bahasa cinta yang memberikan masukan tentang sebuah nilai. Bunda ayah.., sudah bukan waktunya lagi menggunakan bahasa perintah, komando yang bersifat otoriter kepada anak-anak kita yang sudah mulai dewasa. Kita harus mulai menggunakan dialog cinta dengan mereka. Inilah saat kedekatan yang kita miliki membuktikan kekuatannya. Di sinilah curahan kasih sayang dari bayi hingga ia besar di buktikan keberadaannya. Ketulusan cinta kasih orang tua tidak boleh rusak hanya karena cara komunikasi yang keliru terhadap anak. Tidaklah mungkin rasa kasih sayang kita yang tulus terkalahkan dengan hadirnya cinta monyet dalam 2 hari saja. Yang ada hanyalah, kesalahan dalam menyelami perasaan anak kita dan kegagalan kita dalam membangun dialog cinta dengan dirinya.

Karena aku melihat seorang pemuda dan seorang pemudi yang tidak aman dari gangguan syaitan.
Bunda ayah…inilah kekhawatiran Rasulullah terhadap Al Fadl, dan ini pulalah kekhawatiran kita terhadap anak-anak kita hari ini. Kekhawatiran tentang sebuah hubungan yang membuka peluang munculnya gangguan syaitan.

Bunda Ayah…tentu akan lebih sederhana buat Rasulullah karena Al Fadl adalah orang yang tumbuh dalam pemahaman nilai-nilai akhlakul karimah bersama Rasulullah sejak kecil, dan ia pun memiliki Rasulullah, figur yang ia kagumi dan sayangi. Ungkapan nilai dengan lembut dari Rasulullah itu menyebabkan ia cepat tersadar. Itu artinya akan lebih mudah buat kita bunda dan ayah, ketika kita mulai membangun nilai-nilai akhlak mulia itu di saat anak-anak kita masih kecil. Sehingga saat mereka dewasa, bahasa cinta yang kita gunakan terhadap mereka akan lebih mudah menyentuh relung jiwa mereka.

Semoga Allah senantiasa memudahkan keluarga-keluarga yang selalu berharap mendapat inspirasi dan solusi dari keluarga nubuwah, keluarga Rasulullah Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam.