Ayah, Ayo Tuliskan Pesan…

Seperti dalam bab ke delapan yang berjudul: Kewajiban Orangtua terhadap anak,

Orangtua tidak boleh lalai dalam mendidik anaknya, menyatakan yang baik dari anaknya sebagai kebaikan dan menyatakan yang jelek itu jelek, mendorongnya untuk memiliki akhlak yang  mulia, belajar ilmu dan adab, serta memukulnya jika tidak mau mengerjakan hal itu.
Nabi bersabda: Hak anak terhadap orangtuanya adalah memberinya nama yang baik, memberinya tempat yang baik dan mendidiknya dengan baik.
Dari Amr bin Dinar berkata bahwa Ibnu Umar dan Ibnu Abbas memukul anak-anak mereka berdua karena lahn (kesalahan kaidah dalam bicara)
Nabi bersabda: Pilihlah untuk (jatuhnya) nuthfah kalian
.”

Bulughul Maram

Banyak orang yang tahu buku ini. Karya Ibnu Hajar (W: 852 H) ini adalah kitab hadits yang diurutkan berdasarkan urutan fikih dan ditutup dengan adab. Tetapi jarang yang tahu, kalau kitab ini sebenarnya ditulis untuk anaknya yang bernama Muhammad. Sebagaimana yang disampaikan oleh As Sakhawi dalam al Jawahir wad Durar, dia berkata,

Aku pernah mendengar bahwa ayahnya (Ibnu Hajar) mengarang Bulughul Maram untuknya (Muhammad).”

Jadi, Ibnu Hajar mengarangnya untuk menjadi panduan ilmu bagi anaknya di kemudian hari. Dan ternyata kitab tersebut menjadi sangat terkenal, dijelaskan oleh para ulama dan kita pelajari hari ini. Begitulah keberkahan sebuah keluarga dalam panduan tulisan ilmu.

Washiyyah Abil Walid Al Baji Liwaladaihi

Buku ini berisi nasehat Abul Walid Al Baji (w: 474), seorang ulama besar Andalus yang berhasil menyelamatkan Andalus dari perpecahan para penguasanya. Nasehat bagi kedua anak laki-lakinya itu ditulis dengan dengan alasan yang disampaikan di awal nasehat,

Wahai anak-anakku, semoga Allah memberi kalian berdua petunjuk, bimbingan, taufiq dan menjaga kalian berdua. Serta berkenan memberi kalian berdua kebaikan dunia dan akhirat. Semoga Dia menjaga kalian berdua keburukan keduanya dengan rahmat Nya.
Sesungguhnya ketika kalian berdua telah hampir mencapai usia harusnya kalian melaksanakan kewajiban-kewajiban, mendapatkan taklif (beban syariat) dan aku yakin bahwa kalian berdua telah mampu memahami nasehat, melihat petunjuk dengan jelas, layak untuk mengajar dan berilmu, maka aku harus memberikan kepada kalian berdua wasiatku, mempersembahkan nasehatku, khawatir kematian mendahului ayah dan belum sempat mengajari, melatih, memberi petunjuk dan memahamkan kalian berdua.
Jika Allah memanjangkan usia; nasehat, pengajaran, petunjuk dan pemahaman ini akan berulang. Yang memberi taufik kepadaku hanyalah Allah, kepada Nya aku bertawakal dan orang-orang bertawakal. Di tangan Nya hati dan ubun-ubun kalian berdua
.””

Nasehat ditulis dengan sangat berurut. Sangat jelas bahwa Abul Walid seorang ulama yang mengerti tentang urutan materi pendidikan. Isi nasehatnya dimulai dari hal yang paling penting yaitu aqidah, kemudian ibadah hingga muamalah antara mereka berdua dan dengan masyarakat luas. Berikut ini di antara isi nasehatnya tentang Al Quran,
Bersabarlah untuk menghapalnya dan membacanya, selalu mentafakuri makna dan ayat-ayatnya, melaksanakan perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.”

Abul Walid juga memberi nasehat tentang hal-hal yang harus dijauhi, di antaranya,
Jauhilah oleh kalian berdua lagu-lagu. Karena lagu-lagu itu menumbuhkan fitnah dalam hati dan melahirkan lintasan-lintasan jelek dalam jiwa.”

Berikut ini salah satu nasehat tentang interaksi antar dua anak tersebut,
Jangan sampai salah seorang di antara kalian berdua lebih mendahulukan dirinya dalam hal dunia. Sehingga membuatnya menjadi pelit kepada saudaranya. Kemudian berpaling darinya dan bersaing dengannya. Siapa di antara kalian berdua yang diberi keluasan dalam hal dunia, maka ikut sertakan saudaranya, jangan hanya sendirian. Bersemangatlah untuk mengembangkan harta saudaramu, sebagaimana kamu bersemangat mengembangkan hartamu sendiri.”

Talqin Al Walid Ash Shaghir

Penulisnya adalah Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurahman al Azdi. Beliau berasal dari Isybiliya (Sevilla), Andalus. Wafat tahun 586 H.
Di Mukaddimah buku ini, dia memberikan penjelasan,

Ada seseorang yang memintaku untuk mengumpulkan hadits-hadits dalam bab-bab tentang Syariat, agar bisa dihapal oleh anaknya yang masih kecil untuk mendapatkan berkah hadits Rasulullah. Akupun memenuhi permintaannya. Aku berdoa kepada Allah semoga Dia memperlihatkan harapannya, menyampaikannya pada tujuannya dan menambahi dengan sesuatu yang tidak dicapai oleh harapan dan niatnya. Serta semoga Allah menjadikannya bermanfaat dengan rahmat dan kemuliaan Nya. Tiada Robb selain Nya. Shalawat untuk Muhammad hamba dan rasul Nya serta untuk siapapun yang dipilih Nya.”

Buku ini berisi hadits-hadits Nabi agar menjadi panduan hidup bagi anak dan bisa dihapalnya. Dimulai dengan bab tentang takdir yang berisi beberapa hadits, kemudian bab-bab tentang ibadah (wudhu, shalat, zakat dan sebagainya), selanjutnya bab-bab tentang muamalah (Jihad, nikah, jual beli dan sebagainya) dan ditutup dengan bab Al Jami’ yang berisi adab dan akhlak yang harus dimiliki oleh seorang anak.

Dikarenakan target buku ini untuk anak, maka dibuat mudah. Sanad hadits yang panjang dibuang dan hanya ulama yang mengeluarkan hadits dalam kitab-kitab mereka dan nama shahabat. Bahkan hanya satu ulama yang disebut walaupun yang mengeluarkan hadits bisa lebih dari satu ulama. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari  dan Muslim, hanya disebut: Muslim saja (ini kebiasaan ulama-ulama wilayah barat yang lebih memilih Shahih Muslim dibanding Shahih Bukhari).

Total haditsnya ada 183. Ada yang pendek, sedang dan ada yang panjang. Harapannya, agar hadits-hadits ini dihapal oleh anak. Sekaligus belajar isinya yang dibagi dalam berbagai macam bab yang menjadi panduan hidup.

Washiyyah Muhammad ibn Musa Libnihi

Muhammad bin Musa lebih dikenal dengan Ibn ‘Ammar Al Kala’i Al Miyuriqi. Dia menulis buku ini untuk anaknya yang bernama Hasan. Ada yang unik dari buku ini. Nasehat yang berisi hukum dan pesan-pesan untuk anaknya ini ditulis dalam bentuk puisi/syair dalam 300 bait.
Berikut beberapa contoh pesan dalam syair tersebut,

فأد الفرض بالإخلاص فيه        ولا تقعد عن المتنفلينا

وتجتنب الحرام وكل إثم        وتدخل في عداد الطائعينا

وتلتزم الجماعة فهي حصن        مفارقها كبير الزائغينا

Maka laksanakan kewajiban dengan ikhlas        Dan jangan malas melaksankan sunnah
Kamu harus menjauhi yang haram dan setiap dosa    Dan masuk ke kelompok orang taat
Bersamalah dengan jamaah karena itu benteng         Berpisah dengannya kesesatan besar

ولا تحقر من الذنب وانظر        لمن تعصي تكف ولن تخونا

صغير الذنب أن تحقره يكبر        فتب منه سريعا مستكينا

وإن أذنبت في يوم مرارا        فتب منها تكن من التائبينا

فتوبتنا عقيب الذنب فرض        وتارك فرضه في الفاسقينا

Jangan meremehkan dosa dan lihatlah        Kepada siapa kamu maksiat, berhenti jangan khianat
Dosa kecil yang kamu remehkan akan membesar    Maka taubatlah dengan cepat dan tenang
Jika kamu berdosa dalam sehari berkali-kali    Maka taubatlah darinya agar termasuk orang-orang bertaubat
Taubat kita setelah dosa adalah kewajiban    Dan yang meninggalkan kewajiban termasuk orang-orang fasik

Laftatul Kabad fi Nashihatil Walad

Penulis buku ini adalah Ibnul Jauzi (w: 597 H). Isinya nasehat untuk putranya yang bernama Abul Qosim. Berikut kalimat Ibnul Jauzi di mukaddiah nasehatnya,

Aku berdoa agar dianugerahi 10 anak. Aku pun mendapatkannya; 5 laki-laki dan 5 perempuan. Dari wanita meninggal 2 dan dari laki-laki 4. Tidak tersisa dari anak laki-laki ku kecuali Abul Qosim. Aku pun berdoa kepada Allah semoga dia dijadikan penerus yang sholeh dan mencapai harapan-harapan yang baik.
Aku melihat darinya kurang kesungguhan dalam menuntut ilmu. Maka aku menuliskan risalah ini, untuk  mendorongnya dan menggerakkannya agar mengikuti jalanku dalam menuntut ilmu.

Ibnul Jauzi dikenal sebagai seorang ulama besar di berbagai bidang ilmu yang banyak sekali meninggalkan karya tulis. Ilmunya masih abadi hingga hari ini. Selain itu dia juga dikenal sebagai وعّاظ (ahli nasehat). Sangat banyak orang yang masuk Islam dan taubat setelah mendengar majlis nasehatnya. Untuk itulah, nasehatnya dalam buku ini sangat sistematis, menarik dan begitu lengkap.

Ini sebagian nasehatnya,

Yang pertama harus diketahui adalah: mengenal Allah ta’ala dengan dalil. Telah diketahui bahwa siapa yang melihat langit diangkat, bumi diletakkan, bangunan yang tersusun rapi terutama dirinya sendiri, dia akan tahu bahwa setiap karya pasti ada yang membuat, setiap bangunan pasti ada pembangunnya.”

Dia juga menceritakan tentang dirinya agar menjadi pelajaran bagi anaknya,
Aku masih ingat bahwa aku ini mempunyai tekad sangat tinggi. Saat aku masih berusia 6 tahun belajar di maktab (sekolah). Saat itu temanku adalah anak-anak besar. Aku dianugerahi akal yang lapang melebihi akal orang-orang tua. Aku tidak pernah bermain bersama anak-anak di jalanan. Aku juga tidak pernah tertawa terbahak-bahak….
Dulu anak-anak turun ke sungai Dijlah, ada juga yang menikmati dari atas jembatan. Sementara aku yang juga masih kecil, mengambil satu jilid buku, duduk di antara manusia dan aku sibuk dengan ilmu
.”

Ibnul Jauzi juga dikenal sebagai salah seorang ahli pendidikan Islam. Untuk itulah, dia sangat memahami konsep pendidikan. Berikut salah satu nasehatnya untuk anaknya,
Engkau tahu nak, bahwa aku telah menulis 100 buku. Di antaranya at Tafsir al Kabir 20 jilid, at Tarikh 20 jilid, Tahdzib al Musnad 20 jilid, dan kitab-kitab lain ada yang besar dan ada yang kecil, ada yang 5 jilid, 2 jilid, 3, 4, kurang atau lebih dari itu. Aku mencukupimu dengan karya-karya ini dan tidak perlu lagi meminjam buku.
Kamu harus menghapal! Karena menghapal adalah modal dan mengelolanya adalah keuntungan.

Akhirnya dia menutup nasehatnya,
Ingat akhir dari setiap urusan, agar mudah bagimu untuk bersabar dari setiap yang kamu inginkan dan kamu tidak sukai. Jika kamu mendapati dirimu lalai, maka bawalah ke kuburan dan ingatkanlah dengan dekatnya waktu pergi. Aturlah urusanmu –dan Allah adalah Sang Pengatur- dalam masalah infak (membelanjakan harta). Tanpa mubadzir agar kamu tidak bersandar kepada manusia. Sesungguhnya menjaga harta adalah bagian dari agama. Dan kamu meninggalkannya untuk keturunanmu, lebih baik dari pada kamu bersandar kepada manusia.”

Ini hanya sebagian dari tulisan-tulisan para ulama yang dipersembahkan untuk anak-anak mereka atau anak-anak di zamannya. Dan masih banyak lagi yang lainnya. Seperti kitab Alif Ba’, karya Abul Hajjaj Yusuf bin Muhammad al Balawi (w: 604 H) yang dia tulis untuk anaknya. Juga kitab Talqin Al Walid, tulisan Abul Abdillah at Tujibi (w: 620 H). Ada lagi kitab Al Anwar As Saniyyah fil Kalimat As Sunniyyah, karya Abul Qosim Muhammad bin Ahmad al Ghirnathi (W: 741 H) yang dia tulis untuk anaknya. Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Ahmad al Muqry (w: 756 H) menulis kitab Amal Man Thobba liman Habba, yang dia tuliskan untuk anak bibinya. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Allahu Akbar! Islam sangat kaya literatur pendidikan anak. Siapa yang menganggap bahwa Islam hanya petunjuk global, sehingga masih perlu ditopang oleh teori yang bukan dari Islam, jelas ini pendapat yang tidak tepat.

Pesan-pesan itu telah melahirkan orang-orang besar dalam sejarah Islam.

Nah, kini pesan bagi para ayah. Bagi yang ingin melahirkan generasi pelanjut yang istimewa, maka ayo para ayah, mulailah menyiapkan tulisan pesan dan nasehat untuk anak-anak kita.

Selamat berkarya, para ayah…

Semoga Allah membimbing kita semua…