Starting from Ending

Pertemuan baru, wajah baru. Tapi gerbang Kuttab belum lagi dibuka. Generasi peradaban itu akan disambut istimewa. Penyambutan Kuttab dikemas dengan tema simulasi saat Sultan Muhammad Al Fatih menaklukan konstatinopel. Sesuai dengan nama Kuttab yang kami pilih. Kami berharap anak-anak akan selalu ingat dengan apa yang dilakukan, agar kelak mereka dapat membuka satu kota lagi yang Rasulullah janjikan setelah ditaklukannya konstatinopel oleh Al Fatih, kota itu bernama  ROMA.

Mulai dari dibariskan, mereka mengangkat perahu bersama-sama menuju benteng konstatinopel, sampai mereka mendobrak benteng itu dan berteriak Al Fatih…Al Fatih…Al Fatih…Al Fatih…Al Fatih… dan benteng berhasil di buka. Pintu besar Kuttab yang rapat bercat kuning itu ditarik oleh anak-anak secara beramai-ramai. Dengan takbir yang berlompatan keluar dari mulut-mulut mungil mereka, pintu imajiner Konstantinopel itupun berhasil dibuka oleh anak-anak masa depan Al Fatih.

Selamat Datang Wahai Generasi Penerus Peradaban !!!

Semoga simulasi ini selalu mengingatkan mereka akan perjuangan besar Al Fatih untuk menaklukan Konstatinopel. Dan simulasi awal ini dapat menggambarkan perjuangan yang akan mereka jalani untuk membuat batubata peradaban.

Sambut Anak-Anak Sebagai Orang Besar

عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ قَالَ سَمِعْتُ سَلَمَةَ بْنَ الْأَكْوَعِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى نَفَرٍ مِنْ أَسْلَمَ يَنْتَضِلُونَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْمُوا بَنِي إِسْمَاعِيلَ فَإِنَّ أَبَاكُمْ كَانَ رَامِيًا ارْمُوا وَأَنَا مَعَ بَنِي فُلَانٍ قَالَ فَأَمْسَكَ أَحَدُ الْفَرِيقَيْنِ بِأَيْدِيهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا لَكُمْ لَا تَرْمُونَ قَالُوا كَيْفَ نَرْمِي وَأَنْتَ مَعَهُمْ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْمُوا فَأَنَا مَعَكُمْ كُلِّكُمْ

Dari Yazid bin Abi Ubaid berkata: Aku mendengar Salamah bin al Akwa’ radhiallahu anhu berkata:
Nabi shallallahu alaihi wasallam melewati sekumpulan orang dari masyarakat Aslam sedang memanah.
Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: Panahlah wahai anak-anak Ismail. Sesungguhnya ayah kalian seorang ahli panah.
(HR. Bukhari)

Anak-anak memang mempunyai dunia sendiri, yang serba indah dan berwarna-warni. Tetapi bukan berarti mereka harus diperlakukan selalu dalam suasana anak kecil. Efeknya, kita kebablasan meng’anak’kan anak-anak. Hingga pada usia mereka telah remaja (baligh), kita masih menganggapnya sebagai anak kecil. Program yang kita buatkan, adalah program anak-anak. Dan kita anggap mereka belum layak berkumpul dan berpikir dengan cara orang dewasa. Padahal mereka sudah baligh. Hasilnya….seperti yang kita lihat hari ini. Cara berpikir dan bertindak anak muda kita masih seperti anak-anak.

Hal ini jelas berbeda dengan cara Nabi memperlakukan anak-anak muda yang sedang berlomba memanah di atas. Bukan saja dimotivasi, karena motivasi saja tidak cukup. Tetapi dikait dengan kebesaran sejarah nasab mereka. Ya, sejarah kebesaran ayah jauh mereka; Nabi Ismail alaihis salam.

Ini cara komunikasi yang amat cerdas. Zaman mereka hidup dengan Nabi Ismail jelas terpaut sangat jauh. Tetapi Nabi mengait kebesaran Nabi Ismail pun bisa mereka ulangi kembali. Di antaranya keahlian memanah.

Ibnu Baththal dalam Syarh Shahih al Bukhari menjelaskan hadits di atas,
Seseorang harus menelusuri sifat-sifat baik ayahnya, mengikutinya dan melakukannya.”

Kalimat yang serupa disampaikan oleh al Munawi dalam Faidhul Qodir.

Nabi terbiasa menyampaikan harapan kebesaran di hadapan seluruh sahabat beliau, tua, muda, besar, kecil. Walaupun janji kebesaran itu baru akan terbukti dalam hitungan beberapa tahun ke depan.

Harapan kebesaran yang dihembuskan dari kalimat Nabi itu disanggah oleh orang-orang munafik yang pasti sulit mempercayai kalimat Rasul. Tetapi kalimat itu tidak tergoyahkan bahkan terpatri terus di hati orang-orang beriman sepanjang sejarah.

Bacalah sejarah sahabat Nabi asli Madinah; Abu Ayyub Al Anshari, di mana ia dimakamkan. Tembok gagah benteng Konstantinopel (Turki) menjadi tempat yang dipilih oleh Abu Ayyub untuk memakamkan dirinya yang wafat dalam perjalanan menuju penaklukan Konstantinopel.

Abu Ayyub dan pasukan belum berhasil menembus kota yang dijanjikan Nabi itu. Abad demi abad berlalu. Orang-orang munafik pasti semakin tidak percaya karena terbukti sudah berabad-abad janji Nabi itu tidak kunjung terbukti. Tetapi orang-orang beriman terus menitipkan pesan kebesaran itu kepada anak-anak mereka.

Dan abad 9 Hijriyah menjadi bukti dari iman mereka. Benteng besar itu ditaklukkan.

Maka, prosesi pembukaan Kuttab Al Fatih ini merupakan upaya kami menitipkan kebesaran yang telah dijanjikan oleh Nabi kepada kita semua. Karena mereka adalah orang-orang besar yang hari ini baru berusia anak-anak.

Kami tak hanya mengucapkan: Selamat datang anak-anakku yang imut-imut, lucu-lucu…

Tapi kami pun mengucapkan dari hati yang paling dalam dengan getar iman: Selamat datang anak-anakku generasi Al Fatih, pembawa kebesaran muslimin dan pembuka Roma…

Tak Sekadar Nama

Al Fatih adalah nama yang kami pilih untuk Kuttab ini. Sebuah nama kebesaran yang disematkan kepada Mehmet Han Sultan ke-7 Turki Utsmani. Kebesaran namanya menginspirasi untuk meneladani. Sekaligus menyandingkan ‘tropi’ yang dijanjikan Nabi; Kota Roma di samping ‘tropi’ Kota Konstantinopel.

Karenanya, sejarah Muhammad Al Fatih dilahirkan benar-benar kami dalami. Dari masa kecilnya yang bermasalah hingga ia menjadi orang besar di usia belia.
Mustahil akan mendapatkan kebesaran yang sama, manakala jalan yang ditempuh berbeda.

Inilah yang menjadi catatan bagi semangat kita memberi nama kegiatan, lembaga, organisasi atau perkumpulan apapun dengan nama orang-orang besar dalam sejarah Islam. Berbagai nama orang besar mudah kita jumpai menjadi nama untuk sebuah lembaga. Kalau ada yang mengambil nama Al Biruni pasti telah membayangkan kebesarannya di dunia fisika, kimia dan astronomi. Kalau ada yang mengambil nama Az Khawarizmi pasti telah membayangkan kehebatannya di dunia matemati. Kalau ada yang mengambil nama Ibnu Sina pasti membayangkan keahliannya di dunia kedokteran.

Tapi sayang. Kebesaran nama itu hanya dipandang di hasil akhirnya. Tidak dimulai dari pertanyaan : Bagaimana kelahiran dan proses pendidikan Al Biruni, Al Khawarizmi, Ibnu Sina dan sebagainya?

Pasti wajar, jika kita menginginkan hasil yang sama dengan mereka harus menempuh semua proses yang pernah mereka jalani.

Maka, semoga Al Fatih adalah semangat, target sekaligus proses yang terus digali agar bisa ditiru bagaimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Dalam bimbingan Al Quran dan sunnah Nabi.

Karena Nabi telah memujinya. Maka kami pun mendekatinya.

Bermula Dari Akhir

Begitulah kita diajari dalam Islam. Apapun yang kita lakukan hari ini, bermula dari masa depan. Tak hanya masa depan di dunia, bahkan hingga nasib kita di akhirat kelak.

Allah berfirman,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “”Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.”” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.“” (Qs. Al Kahfi: 110)

Jika kita mau bahagia saat berjumpa dengan Allah, maka dari hari inilah kita berpikir dan bertindak. Beramal shaleh dan tidak berbuat kemusyrikan.

Suasana seperti ini merupakan ruh Al Quran dan hadits. Hingga menjadi kebiasaan kalimat para sahabat Nabi. Seperti khutbah Utsman bin Affan radhiallahu anhu,
Dari al Hasan: Bahwa Utsman bin Affan ceramah di hadapan masyarakat, dia mulai dengan memuji Allah kemudian berkata,
“Wahai manusia, bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya taqwa kepada Allah adalah keberuntungan. Sesungguhnya orang yang paling cerdas adalah yang berhati-hati membawa dirinya dan mengerjakan sesuatu untuk setelah kematian. Carilah cahaya dari cahaya Allah untuk menghadapi gelapnya kubur. Hendaknya seorang takut dikumpulkan oleh Allah dalam keadaan buta padahal dulu ia bisa melihat
.” (Ibnu Asakir)

Seluruh kalimat Utsman merupakan cara berpikir jauh orang beriman. Berpikir tentang kubur dan akhirat, kemudian diturunkan menjadi kegiatan dan program di kehidupan dunia. Utsman mengajarkan agar menentukan aktifitas berdasarkan pertanggungan jawab setelah kematian. Juga untuk mengambil cahaya Allah di dunia ini untuk menerangi gulitanya himpitan kubur. Dan menjauhi perbuatan yang akan membuat seseorang dibutakan Allah di akhirat kelak padahal ia di dunia bisa melihat.

Itulah mengapa, dalam proses pendidikan kita pun harus memperjelas warna masa depan di dunia, kubur dan akhirat. Kemudian menurunkannya dalam kegiatan, program, aktifitas dan kreatifitas kita.

Kuttab Al Fatih menyambut generasi Al Fatih dengan memulai dari akhir. Semangat mendapatkan kemuliaan hadits Nabi tentang kebesaran Islam di akhir zaman, telah diilustrasikan di hari pertama. Agar itu terus terpatri pada jiwa dan benak mereka.

Starting from ending

(penulis : Budi Ashari dan Galan)