Secuil Realita; Pesona Cinta Rumah Tangga Rasulullah

Dahulu, disini selalu ada kalimat-kalimat yang indah. Ada pujian yang tulus. Ada sanjungan yang indah. Ada kalimat, “Engkau adalah belahan jiwaku.”. Ada kata, “Kamu adalah manusia paling sempurna dalam hidupku.”. Ada pula kata, “Tanpamu, hidupku tak berarti.

Tahun kemarin, disini ada dua pasang mata yang selalu menatap dengan penuh ketakjuban. Ada tatapan yang dalam, mengungkapkan makna cinta yang tak terwakili kata-kata. Tatapan yang teduh. Tatapan sayang. Tatapan cinta. Tatapan yang memancarkan cahaya dari lubuk hati.

Lima tahun yang lalu, di rumah ini ada sentuhan yang begitu hangat, sehangat sinar mentari di waktu dhuha. Sentuhan kumbang saat hendak menghirup madu bunga. Atau sentuhan sepoi pagi yang membelai bumi dengan penuh kelembutan.

Sepuluh tahun yang lalu, di kamar ini ada kedekatan yang begitu akrab. Bukan sekedar kedekatan fisik. Tapi juga kedekatan hati. Kedekatan yang tanpa batas. Kedekatan sedekat kelopak dan mahkota bunganya. Kedekatan yang seolah akan terbawa sampai surga.

Lima belas tahun yang lalu, rumah sederhana ini serasa istana Elhambra di Andalusia. Tiang-tiang cinta menjulang tinggi. Atap-atap kasih sayang menaungi. Dinding kekaguman berdiri kokoh. Seolah-olah isi dunia ada disini.

Lalu…

Hari terus berjalan tanpa henti. Peristiwa demi peristiwa datang silih berganti. Kewajiban terus bertambah. Masing-masing mulai menunjukkan tabi’atnya. Seiring dengan itu, kemesraan mulai memudar.

Kemudian…

Hadirlah buah hati di tengah-tengah perjalanan cinta. Sedikit-demi sedikit bergeserlah orientasi dan prioritas rumah tangga. Dia bukan lagi suami yang selalu tergila-gila kagum pada istrinya. Dia juga bukan istri yang selalu terlihat menarik, taat dan lemah lembut kepada sang suami. Semua jadi berubah.

Kini, kebosanan yang hadir. Hari-hari berlalu dengan biasa, tidak ada yang istimewa. Yang ada hanya sikap kepura-puraan saja. Pura-pura sayang. Pura-pura cinta. Pura-pura perhatian. Hamper-hampir kebahagiaan tersembunyi, bahkan lenyap ditelan kejenuhan.

Kata-kata menjadi hambar tanpa rasa. Kalimat, “Aku cinta kamu” hari ini tak lagi mengguncang jiwa seperti “Aku cinta kamu” di awal pernikahan dulu. Bahkan kata-kata kasar yang kini kerap terucap. Ada yang kurang, karena hati tidak hadir saat melafadhkannya.

Tatapan mata tak lagi dahsyat menyapa jiwa. Seperti anak panah yang tidak tepat pada sasarannya. Bahkan tatapan kemarahan yang kini sering terjadi. Ada sesuatu yang hilang, karena hati tidak dihadirkan saat memandangnya.

Sentuhan menjadi biasa tanpa getaran rasa. Bahkan tak jarang sikap kasar, seperti memukul, menampar, menyikut, mendorong mewarnai hari demi hari. Pasti ada resep yang kurang, karena hati tak hadir disana.

Kedekatan pun menjadi pudar tanpa warna. Memang badan masih sering berdekatan, namun hati saling menjauhi.

Rumah tangga selalu diliputi ketegangan. Hari-hari diwarnai dengan emosional. Semua saling bersikap individual. Semua saling menuntut hak dan mengenyampingkan kewajiban.

Maka…

Berhentilah sejenak, untuk belajar dari Nabi, bagaimana cara menjaga kehangatan cinta. Belajarlah cinta dari Nabi, cinta yang terus segar bak musim semi, selalu berbunga, indah, mewangi. Sebuah sentuhan siroh tentang manajemen cinta yang menakjubkan.

InsyaAllah nantikan terus serialnya…