Kekuatan Bunda

Tulisan ini ditulis menjelang I’tikaf 1433 H.

Saat ini di Mekah pukul 03.57. Waktu sahur. Sungguh luar biasa perjuangan teman-teman untuk menyelesaikan ibadah umroh. Mekah padat? Itu pasti. Berdesakan muslimin dari seluruh dunia di hadapan Ka’bah. Semua melafadzkan dzikir. Dengan iringan doa dalam kekhusyukan yang tiada duanya.

Perjalanan kami dari tanah air belum lagi mendapatkan jatah istirahatnya. Kami telah bergerak dari tanah air selepas Shubuh. Dan tiba di Jedah pukul 16.30 (20.30 wib). Matahari masih bersinar sangat terang. Maghrib baru berkumandang pada jam 19.00 waktu Jedah (23.00 wib). Itu artinya kita berpuasa selama 18 jam. Cuaca di Jedah 41 derajat. Terik dan haus jelas menjadi alasan sebagian jamaah untuk berbuka. Dan secara syariat jelas dibolehkan, sebab kita adalah musafir.

Selanjutnya menuju ke Mekah. Kendaraan tiba di depan hotel pas saat adzan Isya’ (21.00 waktu Mekah).  Istirahat sebentar di hotel. Kemudian segera masuk  ke Masjidil Haram untuk memulai Thawaf. Saat Syekh Sudais mengakhiri tarawih, kami baru mulai thawaf. Tumpah ruah orang di pelataran thawaf. Dilanjutkan dengan Sai. Dan baru selesai tahallul pada pukul 02.00 dinihari.

Sekembalinya di hotel, meja makan menjadi tempat para jamaah laki-laki berbincang untuk menunggu waktu sahur. Semua merasakan lelah yang luar biasa. Apalagi beberapa orang memutuskan untuk menunggu waktu Shubuh. Itu artinya sepanjang hampir 30 jam kami tidak istirahat kecuali di perjalanan.

Menahan haus dan lapar dalam waktu panjang. Kaki yang terasa pegal-pegal bahkan sakit. Terik panas yang mulai terasa menyengat kulit. Mata yang tak lagi berkompromi kecuali hanya menunggu Shubuh.

Beberapa kali dalam kantuk luar biasa dengan kaki yang mulai diseret di tempat Sai, saya teringat kisah ibunda Hajar. Tak terbayang betapa gersangnya Mekah seperti pengaduan Ibrahim dalam Surat Ibrahim: 37.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.”

Panas, gersang, tidak ada pohon, tidak ada  kehidupan dan Hajar harus seorang diri menanggung itu semua tanpa seorang pun di sisinya. Tetapi Hajar punya Allah. Kemudian mempunyai pendorong jiwa yang senyum, tangis dan gerakan lucu kakinya membuat kepenatan dan kelelahan seperti apapun menjadi tidak berarti. Ya, bayi Ismail.

Shafa – Marwa bukanlah perjalanan yang pendek. Terutama bagi orang yang telah didera kelelahan dan dehidrasi. Dari Shafa terus berjalan membawa asa untuk setetes air, hingga sampai Marwa. Kemudian kembali ke Shafa dengan harapan baru. Walau tak kunjung mendapatkan air, langkah kakinya terus diayun hingga sampai kembali ke Marwa. Begitulah 7 kali..

Subhanallah…malam hingga pagi ini, para laki-laki yang katanya perkasa itu diminta untuk merasakan betapa lelahnya Ibunda Hajar. Untuk merasakan hebatnya Ibunda Hajar yang tidak pernah mengeluh. Semua dilakukannya tanpa kenal lelah. Untuk ananda tercinta.

Wanita yang secara fisik tidak lebih kuat dari laki-laki, diberi Allah perasaan dan hati yang dengannya ia bisa lebih perkasa dari laki-laki. Anak benar-benar  merupakan belahan jiwanya. Saat ia menangis. Saat ia tertawa. Saat ia bermain. Saat bunda sedang senang. Saat bunda sedang sedih. Saat bunda sedang lelah. Tapi panggilan si kecil selalu disambutnya dengan hati. Hingga saat para laki-laki telah mengeluh kelelahan, bunda menikmati itu semua.

Hingga dipancarkan kesejukan dan jernihnya Zamzam yang diberkahi.