Penguatan Konsep Dasar dan Solusi Pemecahan Masalah

Coba anda bayangkan bila anda memiliki sebuah rumah seharga kira-kira 16 Milyar. Rumah anda sangat luas dikelilingi lahan kurang lebih 8000 m2. Ada halaman belakang luas yang indah, lengkap dengan kolam renang besar dan gazebo di sebuah rumah bertingkat dengan ruangan-ruangan yang luas. Anda menyekolahkan anak anda di sekolah dengan fasilitas terlengkap, di lingkungan terbaik. Anak anda tumbuh baik, pendiam, suka mengutak atik gadget, tidak nakal, sangat sopan, nilai-nilai sekolah baik, bahkan teman-teman anak anda bilang anak anda adalah seorang genius, sangat cerdas.

It’s just like a dream come true, isn’t it?

Kagetkah anda bila tiba-tiba anak anda yang sempurna itu di suatu hari yang tak pernah terbayangkan, mengambil senjata dan membunuh anda serta 20 orang anak plus 5 orang dewasa lainnya dan pada akhirnya membunuh dirinya sendiri?

Dan itulah kenyataan yang terjadi pada diri Adam Lanza, remaja penembak massal di Connecticut yang dikenal dengan tragedi “Connecticut School Shooting“.

Saya tidak ingin membahas lebih jauh tentang apa penyebab utama seorang Adam Lanza menjadi pembunuh tiba-tiba seperti itu. Sampai detik ini pun, para investigator masih mencari penyebabnya dan belum sampai pada sebuah kesimpulan.

Yang menjadi konsiderasi pemikiran saya adalah bagaimana hidup kita ini sebenarnya seringkali mencari solusi penyelesaian masalah pada persoalan yang terlihat di permukaan saja.

Misalnya dalam kasus  Adam Lanza ini, pemerintah  Amerika  sibuk mencari solusi agar tidak terjadi masalah yang sama dengan cara melakukan pembatasan penjualan senjata api. Selesaikah masalah pembunuhan massal yang dilakukan remaja (yang sudah kesekian kalinya terjadi di Amerika) ini dengan solusi tersebut?

Bila melihat persoalan lainnya, terjadinya banyak kecelakaan karena pengemudinya mabuk minuman/obat-obatan terlarang, membuat pemerintah kemudian memberikan solusi berupa peraturan pelarangan mengemudi dalam keadaan mabuk.

Di negeri sendiri, sebagai penyelesaian masalah penyebaran HIV AIDS di kalangan remaja, maka pemerintah kemudian membagikan alat kontrasepsi kepada para remaja.

Menyedihkan dan tragis….

Kita terpuruk dan disempitkan dengan kondisi membuat peraturan baru sebagai solusi pemecahan masalah berdasarkan masalah yang terlihat di permukaan saja. Dan pada akhirnya kebingungan ketika solusi yang dianggap terbaik tidak juga dapat menyelesaikan permasalahan yang ada.  Sedikit sekali yang mencoba mencari dan menyelesaikan akar permasalahan yang sebenarnya.

Sebagai seorang Muslim, maka seharusnya Al Quran menjadi jawaban atas konsep dasar sekaligus solusi pemecahan masalah.

Namun apakah kita sudah benar-benar menjadikan Al Quran sebagai petunjuk pertama kali bagi penyelesaian persoalan kita. Betapa lebih seringnya kita membuka buku-buku referensi A, B, C, D dan jurnal-jurnal E,F,G,H, namun jauh dari pemikiran bahwa semua persoalan kita itu dapat diselesaikan dengan ayat-ayat Al Quran.

Saat yang tepat untuk mulai berpikir dan mencari jawaban dengan nash yang tidak ada keraguan di dalamnya. Tidak ada kata terlambat, yang ada hanyalah kemauan yang kuat untuk menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak sholih/sholihah yang jauh lebih baik dan jauh lebih besar dari orangtuanya dengan kembali ke Al Quran.

Ya Allah, bimbinglah kami….