Memahami Orangtua dan Guru

Dalam dunia pendidikan anak, baik di rumah ataupun di sekolah, pembahasan tentang memahami anak-anak sudah biasa.Itu yang dibahas di berbagai kajian parenting dan pendidikan. Dan memang Islam dengan dicontohkan langsung oleh Rasulullah memiliki kepedulian dan perhatian khusus terhadap anak-anak. Rasulullah langsung yang mengajarkan dan mencontohkan bagaimana memahami anak-anak.

Tetapi yang langka diajarkan di dunia parenting dan pendidikan hari ini adalah anak-anak harus diajari memahami orangtua dan guru. Hari ini, anak-anak selalu dalam posisi sebagai raja, yang harus dipahami. Efeknya, orangtua dan guru merasakan kelelahan dalam mendidik anak-anak. Sudah pasti lelah, karena hanya sepihak dari satu arah saja. Hanya ada pendorong tanpa penarik. Apa bisa berjalan? Bisa, tapi melelahkan dan pasti lebih lambat. Bayangkan ketika timbal balik telah tercipta. Antara orangtua dan anak. Antara guru dan murid. Jika guru memahami murid, maka harus mulai diajarkan murid memahami guru. Jika orangtua memahami anak, maka harus mulai diajarkan anak memahami orangtua. Dengna itu, maka aliran ilmu dan kebaikan pasti lebih cepat dan tak banyak masalah melintang.

Dan inilah hebatnya konsep pendidikan Islam. Tak hanya orangtua dan guru yang diminta memahami anak-anak. Tetapi anak-anak diajari memahami orangtua dan guru. Hal ini telah diajarkan oleh sejarah Rasulullah dan para shahabat. Bahkan sejak usia awal para shahabat. Rasul sangat memahami anak-anak. Tetapi anak-anak pun segera berproses untuk memahami Rasul sang guru.

Aisyah yang hidup bersama Nabi dan baru berusia 9-18 saat bersama beliau, telah memahami karakter sang guru; Rasulullah. Berikut kalimat Aisyah,
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah memukul dengan tangannya hanya karena urusan pribadi beliau, tidak pada wanita tidak pula pada pembantu, kecuali saat berjihad fi sabilillah. Dan tidaklah beliau membalas orang yang menyerang diri beliau kecuali jika ada aturan Allah yang dilanggar, maka beliau membalas untuk Allah.” (Misykat Al Mashabih, At Tibrizi, dishahihkan oleh Al Albani)

Kalimat ini merupakan kesimpulan Aisyah hasil berinteraksi dengan Rasul. Perjalanan yang dilalui bersama antara guru dan murid, harus mampu melahirkan kemampuan murid memahami guru. Apalagi antara orangtua dan anak yang berinteraksi lebih sering dan lebih lama di rumah mereka.

Di antara peristiwa yang dialami Aisyah saat berinteraksi dengan sang guru, sebagaimana yang kita baca pada riwayat berikut,

Dari Aisyah berkata: Rasulullah jika memerintahkan sesuatu kepada para shahabat, beliau memerintahkan amal sesuai dengan kemampuan mereka. Tapi mereka berkata: Kami tidak sepertimu Ya Rasulullah, karena sesungguhnya Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. Maka Rasul pun marah hingga terlihat marah itu pada wajah beliau kemudian beliau berkata (Sesungguhnya yang paling bertaqwa dan paling tahu tentang Allah adalah aku) (HR. Bukhari)

Perhatikanlah peristiwa yang disaksikan Aisyah tersebut di atas. Aisyah dan para shahabat bahkan hapal betul kapan Rasul marah. Rasul tidak marah dengan cara memukul orang atau benda. Tidak juga dengan berkata: Saya sedang marah! Tetapi mereka semua sangat paham kapan Rasul marah. Karena terlihat dari bahasa tubuh beliau. Wajah yang memerah, urat leher yang membesar dan seterusnya.

Andai anak-anak hari ini seperti Aisyah yang bisa memahami orangtua dan guru hanya dengan sekadar perubahan wajah orangtua dan guru?

Kemudian mereka tahu bagaimana harus bersikap saat keadaan tidak nyaman seperti itu terjadi?

Alangkah mudah dan ringannya tugas mendidik itu…

Kalau kisah tersebut terjadi pada anak perempuan yang lebih besar rasanya, maka kini saya nukilkan kisah yang terjadi pada shahabat laki-laki yang juga masih berusia belia.

Jabir bin Abdillah radhiallahu anhu, shahabat asli Madinah yang oleh Ibnu Abdil Barr disebut (dalam: Al Isti’ab),
Dia ikut menyaksikan Bai’at Aqobah kedua bersama ayahnya saat masih kecil dan tidak ikut pada Aqobah yang pertama.”

Aqobah dua hanya berjarak beberapa bulan menuju hijrah Rasulullah dan para shahabat ke Madinah. Dan kemudian Jabir berinteraksi dengan sang guru; Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Jabir belajar memahami gurunya. Berikut ini penuturannya,

Dari Jabir: Bahwasanya Umar bin Khattab radhiallahu anhu mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan membawa Taurat dan berkata: Ya Rasulullah ini Taurat.

Rasul diam. Dan Umar membacanya. Wajah Rasulullah mulai berubah.

Abu Bakar segera berkata: Tidakkah kamu melihat wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam?

Umar pun melihat wajah Rasulullah dan kemudian berkata: Aku berlindung kepada Allah dari kemurkaan Allah dan Rasul Nya. Kami ridho kepada Allah sebagai Robb, Islam sebagai Ad Dien dan Muhammad sebagai Nabi.

Nabi kemudian bersabda: (Demi yang jiwa Muhammad berada di tangan Nya, andai Musa hadir untuk kalian, kemudian kalian mengikutinya dan meninggalkanku, kalian semua tersesat dari jalan yang lurus. Andai ia hidup dan menemui kenabianku, pasti ia mengikutiku) (HR. Ad Darimi, lihat Misykat Al Mashabih karya At Tibrizi dan dihasankan oleh Al Albani)

Peristiwa ini dihadiri oleh Jabir yang masih belia. Peristiwa ini hadir hidup dalam kenangan Jabir. Di sinilah ia belajar bagaimana memahami guru yang sedang marah. Abu Bakar yang melihat perubahan wajah Rasul segera memberitahu Umar. Abu Bakar hanya berkata: Tidakkah kamu melihat wajah Rasulullah? Umar yang mendengar itu, hanya menatapkan matanya ke wajah Rasul. Dan seketika itu, Umar langsung paham bahwa beliau sedang marah. Dan Umar segera tahu sumber kemarahan Rasul, yaitu keberadaan Taurat yang dibawanya dan dibacanya di hadapan beliau. Umar pun segera bertindak untuk mencari keridhoan guru dan berupaya meredam kemarahan beliau. Dan guru yang bijak itupun menjelaskan mengapa beliau marah.

Ini berjadi dengan gamblang di hadapan Jabir. Pantaslah para shahabat Nabi sejak dini tak hanya dipahami tetapi juga belajar memahami guru.

Begitulah kita belajar dari pendidikan terbaik Rasulullah. Sebagai orangtua dan guru, kita harus memahami anak-anak kita. Tetapi kita pun harus mulai mengajarkan kepada anak-anak untuk memahami orangtua dan guru.