Generasi Kurma (bagian 2)

Dari Thala’ hingga Tamr

Kita tentu tahu dan pernah merasakan buah kurma yang manis itu. Yang perlu diketahui, buah Kurma yang kita makan itu, sebenarnya merupakan fase terakhir dari perjalanan pematangan buah kurma.

Berikut ini urutan buah kurma dari sejak kemunculan pertama sampai buah kurma kering berwarna gelap yang kita kenal,

  1. Thala’. Dalam bahasa kita adalah mayang. Ia bintik-bintik berwarna putih atau ada juga yang kekuning-kuningan.
  2. Kholal adalah fase di mana buah pohon kurma mulai muncul berwarna hijau. Berbentuk bulat dan rasanya sepat. Keras dan kriuk ketika digigit.
  3. Balah. Fase ini buah kurma berubah warna menjadi berwarna merah. Rasanya lebih manis dari sebelumnya walau masih tersisa rasa sepat. Dan juga masih keras dan kriuk waktu digigit.
  4. Busr. Di fase ini buah kurma menjadi menguning bercampur coklat. Yang berwarna kuning masih sedikit keras dan kriuk dengan rasa sedikit sepat tetapi yang berwarna coklat lembek dan manis sekali.
  5. Ruthob. Warna buah kurma di fase ini telah menjadi coklat dan cenderung semakin gelap. Lembek dan sangat manis.
  6. Tamr. Inilah fase terakhir yang lebih kita kenal. Buahnya kering, dengan warna coklat gelap atau hitam. Terasa manis dan awet sekali.

Sesungguhnya ada fase yang lebih detail dari ini. Di antara Thala’ dan Kholal saja masih ada 3 fase; Sayab, Jadal, Sarad. (Lihat Tajul ‘Arus, Murtadho Az Zabidi)
Tapi kita cukupkan dengan ke-6 fase tersebut. Hal ini dilandaskan kalimat Ibnul Atsir,“Awalnya kurma adalah: Thala’, kemudian Kholal, setelahnya Balah, selanjutnya Busr, kemudian Ruthob dan akhirnya Tamr.” (Lihat Tajurl ‘Arus, Murtadho Az Zabidi dan Lisanul Arab Ibnul Mandzur)

Adapun Al Quran hanya menyebut 2 dari 6 fase kurma,

PertamaThala’

وَالنَّخْلَ بَاسِقَاتٍ لَهَا طَلْعٌ نَضِيدٌ

Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun.” (Qs. Qof: 10)

KeduaRuthob

وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا

Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (Qs. Maryam: 25)

Saya belum tahu, mengapa secara khusus hanya dua fase ini yang disebut dalam Al Quran. Apa hikmah dari pemilihan keduanya. Maaf, saya belum punya ilmunya.

Satu lagi info tentang urutan buah Kurma tersebut: Semakin matang, semakin sedikit kandungan airnya. Dari kisaran di atas 80% terus berkutang seiring semakin matang, hingga hanya tersisa 20% saja. (Lihat: Ar Ruthob Wan Nakhlah, DR. Abdullah Abdurrazzaq al Said)

Jika Nabi memerintahkan untuk kita merenungi seorang muslim dan mukmin yang diibaratkan seperti pohon kurma. Dan buah kurma hanyalah bagian dari manfaat dari pohon kurma. Maka dengan informasi di atas bisa kita ambil pelajaran,

    1. Tahapan menuju kesempurnaan.

Kita harus bersabar dalam berproses. Tahapan demi tahapan dalam hidup harus dijalani. Dan harus terukur benar pada setiap tahapan. Hingga akhirnya adalah tahapan kesempurnaan.

    1. Kurma adalah buah yang dari awal sudah bisa dinikmati dan telah memiliki manfaat.

 

    1. Begitulah tahapan hidup kita. Sejak usia kanak-kanak kita bertahap, kemudian memasuki usia baligh dan seterusnya hingga tua, harus sudah ada kebaikan sehingga bisa dimanfaatkan. Tak dibenarkan pada usia kanak-kanak hanya dihabiskan untuk bermain dan tidak ada karya pada usia itu sehingga tidak bermanfaat fasenya. Tak dibenarkan pada usia baligh dianggap usia yang dihabiskan pada keguncangan sehingga usia emas itu justru hilang tanpa manfaat. Dan tidak benar, usia tua adalah usia pensiun dari karya. Ya, orang beriman setiap fase hidupnya harus sudah bermanfaat dan bisa dinikmati oleh orang lain, sesuai dengan fasenya.

 

    1. Setiap tahapan memiliki warna-warni yang indah (putih, hijau, merah, kuning, coklat dan hitam) dan dengan ciri khas masing-masing.

 

    1. Perhatikan warna-warni yang ditimbulkan oleh kurma itu. Putih, hijau, merah, kuning, coklat. Indah bukan. Begitulah setiap tahapan hidup kita. Harus indah. Selalu indah. Dengan rasa dan bentuk keindahan yang berbeda-beda pada setiap tahapannya.

 

    1. Semakin lama semakin manis dan lembut.

 

    1. Kalaupun setiap tahap hidup sudah bermanfaat, indah dan bisa dinikmati. Ada yang harus dipastikan, yaitu semakin lama hidup ini semakin manis dan semakin lembut. Semakin bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain serta semakin matang dan stabil jiwanya.

 

    1. Kandungan air semakin berkurang.

 

    Karena kandungan air yang besar, Ruthob mudah sekali rusak walau disimpan di dalam ruang pembeku. Berbeda dengan Tamr yang sangat awet dan tidak mudah rusak. Hidup ini pun demikian. Semakin hari harus semakin jauh dari kerusakan. Dan semakin memiliki immunitas dari kerusakan. Tidak mudah terbawa arus kerusakan. Semakin matang usianya, harus semakin matang ilmu, iman, jiwa, akal untuk kokoh dalam kebaikan dan teguh dalam menolak keburukan di sekelilingnya. Jika usia telah matang tetapi masih saja mudah terbawa arus kerusakan, maka tahapan kurma yang diinginkan Nabi belum ada pada kita.

Sekali lagi, para ahli tanaman pasti bisa menjelaskan lebih dalam dari penjelasan saya ini. Ditunggu…