Hadhinah

Hari Ahad ini, rumah kami banjir air mata. Semua menangis. Tak terkecuali saya. Apalagi setelah anak-anak menangis begitu kuatnya, hingga sesenggukan. “Jangan pulang….” “Mbak kemana?….” begitulah anak-anak kami menangis sejadi-jadinya. Siang itu saya berusaha menghibur anak-anak. Shalat Dzuhur mereka laksanakan masih dengan isakan tangis.

Tangis itu karena perpisahan. Berpisah dengan seorang mbak yang selama ini membantu rumah kami. Sudah beberapa tahun dia bersama kami sebagian bagian dari keluarga kami yang tak terpisahkan. Dengan semua suka dan dukanya. Kemudian ia memutuskan untuk pulang karena mau berbakti kepada kedua orangtuanya yang sudah tua dan mulai sakit-sakitan.

Dari kisah ini tentu saya ingin agar kita semua belajar dalam dalam bab Hadhinah. Sebenarnya saya sudah lama ingin menulis poin penting dalam rumah tangga muslim ini. Tetapi selalu tertunda dan alhamdulillah Allah hadirkan momentum yang tepat. Untuk setidaknya saya mengawali tentang konsep parenting nabawiyah dalam hal ini.

Kalau kita buka siroh Nabi, kita akan menjumpai para ulama lebih suka menyebut Ummu Aiman sebagai Hadhinah Rasulillah (Pengasuh Rasulullah). Dan nanti pun, Nabi dalam kehidupannya ada orang-orang yang membantu. Demikian juga sebagian shahabat. Dan begitulah sebagian kita hari ini. Sehingga seharusnya, tak bisa kita abaikan keberadaan seseorang yang pasti sedikit atau banyak akan memberikan pengaruh positif atau sebaliknya. Maka sudah seharusnya kita bertanya kepada Nabi, bagaimana bersikap terhadap mereka.

Ummu Aiman pengasuh yang mengasuh Nabi sejak kecil. Sampai Muhammad shallallahu alaihi wasallam menjadi Nabi, Ummu Aiman masih terus mendampingi Nabi dan menjadi wanita yang beriman. Wanita asli Habasyah ini sangat dimuliakan oleh Nabi. Nabi memanggil wanita yang bernama asli Barokah ini dengan sebutan, “Ibu.” Suatu kali Nabi menyebutnya, “Ibuku setelah ibuku.” Kalau Nabi melihatnya, Nabi berkata, “Dia adalah sisa keluargaku (yang masih hidup).” Bahkan Nabi bertanggung jawab mengurus keluarganya. Ketika suami Ummu Aiman meninggal dan meninggalkan anak yang bernama Aiman, Nabi mengumumkan kepada para sahabat, “Siapa yang mau menikahi ahli surga maka nikahilah Ummu Aiman.” Dan Ummu Aiman pun menikah dengan putra angkat Nabi, Zaid bin Haritsah dan kelak melahirkan panglima termuda nan hebat; Usamah bin Zaid. Radhiallahu anhum ajma’in.

Begitulah, Nabi menganggap Hadhinah nya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan beliau. Bahkan dianggap sebagai salah satu ibunya. Ibu yang mengasuhnya. Nabi memasukkannya sebagai bagian dari ahlul bait beliau. Bahkan Nabi bertanggung jawab terhadap kebutuhan dalam hidupnya. Beliaulah yang menikahkan Ummu Aiman dengan Zaid bin Haritsah yang merupakan keluarga mujahid.

Dari sinilah, Nabi memberikan panduan penting,

عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ، قَالَ: رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ وَعَلَيْهِ حُلَّةٌ، وَعَلَى غُلَامِهِ مِثْلُهَا، فَسَأَلْتُهُ عَنْ ذَلِكَ، قَالَ: فَذَكَرَ أَنَّهُ سَابَّ رَجُلًا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَعَيَّرَهُ بِأُمِّهِ، قَالَ: فَأَتَى الرَّجُلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ، إِخْوَانُكُمْ وَخَوَلُكُمْ، جَعَلَهُمُ اللهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ، فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدَيْهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُلُ، وَلْيُلْبِسْهُ مِمَّا يَلْبَسُ، وَلَا تُكَلِّفُوهُمْ مَا يَغْلِبُهُمْ، فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ فَأَعِينُوهُمْ عَلَيْهِ»خ م

Dari Al Ma’rur bin Suwaid berkata: Aku melihat Abu Dzar memakai pakaian bagus dan pembantu (laki-laki) nya pun memakai yang sama. Aku bertanya tentang hal itu. Diceritakan bahwa Abu Dzar pernah mencaci seseorang di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan mencaci ibunya juga. Orang itu datang kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan menceritakan hal itu. Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata (kepada Abu Dzar): Sesungguhnya kamu adalah seseorang yang masih memiliki sifat jahiliyyah. Saudaramu yang Allah jadikan ada di bawah tanganmu. Barangsiapa yang saudaranya ada di bawah tangannya, maka berilah ia makan seperti ia makan. Berilah ia pakaian seperti ia berpakaian dan jangan membebani pekerjaan yang tidak sanggup ia lakukan. Jika kamu membebaninya, maka bantulah ia. (HR. Bukhari dan Muslim)

Andai keluarga muslim mengetahui kewajiban mereka terhadap orang lain yang hidup bersama di rumah mereka, seperti dalam hadits Nabi di atas. Maka akan terjadi hubungan yang sangat baik dan saling menguntungkan. Keluarga dibantu dalam banyak tugas dan pekerjaan. Sementara mereka yang membantu pekerjaan merasakan kenyamanan seperti hidup dalam keluarganya sendiri.

Ada 5 tugas dalam hadits ini yang harus diberikan kepada Hadhinah dan siapapun yang membantu kehidupan rumah kita:

  1. Dia saudaramu yang hidup di bawah tanganmu. Kalimat ini merupakan pengingat bahwa kita harus menganggapnya sebagai saudara kita. Dan   Allah amanahkan ke dalam kehidupan kita. Dengan demikian, kehidupan akan tetap berjalan dengan baik, tak ada perlakukan dzalim. Karena mereka saudara kita. Hanya saja masing-masing mempunyai tugas yang berbeda
  2. Berilah ia makan seperti kamu makan.
  3. Berilah ia pakaian seperti kamu berpakaian. Lihatlah Nabi sampai menyetarakan masalah makan dan berpakaian. Agar keluarga muslim tahu bahwa yang hidup bersama kita, berhak merasakan kemuliaan kehidupan kita. Inilah yang membuat Abu Dzar memilih untuk memberi pakaian yang sama bagusnya kepada orang yang membantunya.
  4. Jangan membebani pekerjaan yang tidak sanggup dikerjakan. Menggaji mereka bukan berarti mendzalimi mereka. Kita harus mengukur kemampuan fisiknya. Dan jangan memberi tugas melebihi kekuatannya.
  5. Jika perkerjaan berat, maka bantulah ia. Baik dengan kita langsung yang ikut membantu. Atau melibatkan orang lain untuk membantunya.

Dan yang juga sangat penting dari tugas keluarga terhadap hadhinah dan siapapun yang membantu kita seperti dalam kisah Ummu Aiman adalah membimbing kesholehan mereka. Karena mereka hidup bersama anak-anak kita. Jika Hadhinahnya orang berilmu dan sholeh, tentu kita nyaman sesekali meninggalkan anak-anak bersama mereka.

Sungguh mulia ajaran Rasulullah. Tak ada bab yang ditinggalkan. Semua dijelaskan dan ditunjukkan.

جزاك الله عنا أطيب الجزاء, mbak