Diam sejenak… (1)

Jika Rasulullah gundah,

gemetar badannya karena mendapat wahyu pertama,

Apa yang dilakukan Khadijah, sang Istri tercinta?

Memeluk dan menyelimuti

Memberikan kenyamanan, menghibur, membesarkan hatinya

dan memberikan dorongan optimisme bagi sang suami

Ketika Nabi Ibrahim harus mengambil keputusan berat dan menyedihkan,

Meninggalkan Istri dan anak yang telah lama ditunggu-tunggu kehadirannya,

Apa yang dilakukan Siti Hajar, sang bunda mulia?

Menguatkan dan membiarkan sang suami

meninggalkan mereka karena Allah

Memberikan keamanan dan keikhlasan bagi sang suami

untuk menjalankan perintah Allah

Ketika Abu Thalhah kehilangan anak kesayangannya,

Apa yang dilakukan Ummu Sulaim, sang Istri yang luar biasa?

Disenangkan hati suaminya,

dikuatkan cinta mereka.

Memberikan kesiapan

dan ketenangan hati bagi sang suami,

untuk menerima berita kehilangan yang menyedihkan.

“Wahai Abu Thalhah bagaimana pendapatmu jika ada suatu kaum memberikan pinjaman kepada keluargamu, lalu mereka meminta kembali pinjamannya, apakan boleh mereka menahanya (tidak mengembalikan pinjaman)?”

Lihatlah potret istri-istri sholihah,

Sekuat tenaga dan hati,

mereka berusaha untuk tidak menambah beban suami mereka.

Tidak lah mereka sambut suami yang sedang gundah

dengan pertanyaan-pertanyaan

yang akan menambah kegundahan

Tidaklah mereka beratkan langkah suami mereka

untuk beraktivitas di luar rumah

hanya demi keamanan dan kenyamanan diri

Tidaklah mereka beri berita buruk pada sang suami

saat suami baru saja tiba ke rumah

dengan keletihan dan beban pekerjaan di luar sana

Sungguh,

Tidak mudah bagi seorang istri

untuk melakukan itu semua,

tapi juga bukan sesuatu yang mustahil dilakukan

Toh sudah ada contohnya

Tinggal keinginan yang harus di kuatkan

untuk mencontoh istri-istri sholihah

dan ibunda-ibunda mulia

ketika hadir masa-masa kurang nyaman dalam kehidupan berumahtangga

Apakah sangat sulit menahan diri sejenak

untuk tidak bertanya ini dan itu

yang makin memberatkan gundah?

Apa sangat sulit menahan ego diri

untuk membiarkan suami pergi sejenak melepas beban

dan tidak membahas hal-hal berat

yang makin membuat kepala berdenyut-denyut?

Apa sangat sulit

menyambut sang suami pulang dengan senyuman,

dilayani dengan baik keperluannya,

ditenangkan hatinya,

tidak bersegera memberi berita buruk

yang makin menambah lelah bahunya?

Diam sejenak, beri waktu,

istirahatkan hati dan pikiran

ketika gundah melanda

Terkadang lebih mudah berpikir jernih

dan mencari solusi

ketika hati tenang

Yakinlah,

ketika satu kesulitan muncul

akan banyak pintu kemudahan terbuka

Dan ,

hanya istri lah yang mampu membawa ketenangan

dan keoptimisan pada suami tercinta