Diam sejenak… (2)

Ketika Aisyah bercerita kepada Rasulullah

Obrolannya dengan teman-teman tentang suami-suami mereka,

Apa yang dilakukan Rasulullah, sang suami teladan?

Mendengarkan hingga selesai

Merayu dengan menggunakan perumpamaan yang diambil dari cerita Aisyah.

Memberikan kesenangan hati dan memperlihatkan bahwa Beliau mendengarkan dengan baik.

“Aku untukmu seperti Abu Zar’in kepada Ummu Zar’in”

Ketika  kalimat-kalimat keras keluar dari lisan Istri Umar,

Apa yang dilakukan Umar bin Khattab, sang amirul mukminin?

Diam, mendengarkan dan tidak menjawab apapun.

Memberikan kesempatan sang istri untuk mengeluarkan uneg-uneg dan ganjalan hati yang memberatkan.

Ketika Fatimah menggiling tepung di dapur,

Apa yang dilakukan Ali bin Abi Thalib, suami tersayang?

Menyingsingkan lengan baju,

Duduk bersama membantu istrinya menggiling tepung,

Cukuplah membelai rasa dihargainya seorang istri.

Itulah gambaran suami-suami ideal,

Pemimpin umat di luar, penyayang istri di rumah.

Tidaklah dibawa pulang kepemimpinan yang diktator ketika berada di rumahnya.
Tidaklah ditinggalkan istrinya,

ketika sang istri bercerita remeh temeh tak penting menurutnya,

namun hargailah karena istri ingin bercerita.

Tidaklah duduk tenang ongkang-ongkang kakinya

ketika melihat istrinya mengerjakan pekerjaan rumah yang belum juga selesai.

Sungguh,

Tak mudah bagi suami untuk diam,

Mendengarkan hingga selesai semua cerita dan keluhan istri,

Tapi tidak juga sesuatu yang tak mungkin dilakukan.

Toh para pemimpin umat melakukannya demi rasa cinta bagi sang istri.

Apakah sangat sulit

Sekadar mendengarkan hingga selesai

Istri yang sedang bersemangat bercerita,

Tidak serta merta memotong

Dan menganggap tak berguna semua remeh temeh ceritanya?

Apakah sangat sulit untuk memahami,

Istri pun punya beban pikiran, kelelahan dan kejenuhan

Bayangan tugas rumah tangga yang tak pernah selesai?

Apakah sangat sulit,

Mencoba duduk menemani istri mengerjakan pekerjaan rumah

Hingga istri tak merasa sendirian mengerjakan pekerjaannya?

Diam sejenak,

Dengarkan saja keluh kesahnya,

Toh tak lama akan tersenyum lagi dirinya.

Terkadang istri hanya perlu didengarkan,

Tidak perlu penyelesaian persoalan

Tak perlu tambahan beban dengan nasihat

Atau bahkan omelan balasan.

Ada masa

Dimana istri memang butuh untuk melepaskan penat

dengan bicara tak henti,

Maka,

cobalah untuk mengerti.

Dan percayalah,

Seorang istri tak akan pernah melupakan hal kecil yang suaminya lakukan untuknya.