Untuk Kita Semua, Para Istri: Mari Kita Belajar Menghindari Rentetan Pertanyaan Emosional

Fragmen I:

Seorang laki-laki berjalan hilir mudik. Raut wajahnya gelisah luar biasa. Sebentar-sebentar terdengar helaan nafasnya. Menandakan kegundahan hatinya.

Teman sekantornya pun menghampiri kemudian bertanya, “Bapak kenapa?”

Sang laki-laki yang gelisah pun menjawab, ”Saya baru dipanggil HRD, kontrak saya tidak diperpanjang. Akhir bulan ini, terakhir saya bekerja di kantor ini.” jawabnya lesu.

Teman sekantornya langsung berkomentar,”Ya Allah, pantas Bapak terlihat gelisah seperti itu.”

Sang laki-laki menjawab lagi, ”Sebenarnya saya bukan gelisah karena kontrak tidak diperpanjang. Saya yakin Allah Yang Maha Pemberi Rizki.  Tapi, saya sedang bingung bagaimana menghadapi istri saya di rumah. Saya pasti akan ditanya-tanya kenapa, mengapa, bagaimana bisa, dan lain sebagainya yang bahkan saya sendiri tidak tahu jawabannya.” jelasnya.

Ia kembali menghela nafas sejenak kemudian berkata, “Belum lagi pertanyaan selanjutnya: terus kita makan apa bulan depan? Bayar cicilan pakai apa? Dan seterusnya. Membayangkan pertanyaannya saja saya sudah pusing. Sudah cukup rasanya pusing di kepala saya ini  karena kontrak diputuskan sepihak.  Tapi saya akan lebih pusing lagi kalau membayangkan harus menjawab pertanyaan-pertanyaan istri saya. Sungguh, kepala saya rasanya mau pecah. Tidak sanggup saya pulang rasanya.”

***

Fragmen 2

Di salah satu sisi dunia ini, berpuluh abad yang lalu.

Dalam keadaan menggendong putra yang baru saja dilahirkannya. Seorang istri diajak oleh suaminya untuk menempuh perjalanan jauh.  Bahkan sangat jauh untuk ukuran perjalanan zaman sekarang.

Sang suami tak mengatakan pada istrinya kemana mereka hendak pergi. Sang istri dengan ketaatan yang luar biasa pada suaminya pun hanya mengikuti. Berkali-kali ia menguatkan hati untuk bertawakal kepada Allah. Di tengah terik panas gurun pasir yang kering kerontang, sampailah mereka di tempat tujuan. Di kiri kanan yang terlihat hanyalah pasir dan batu. Tanpa pohon yang meneduhi. Tanpa sungai yang menyejukkan. Tanpa ada seseorang yang dapat dimintai pertolongan.

Ditinggalkan dirinya dan sang anak yang masih menyusu padanya, oleh suaminya.

Sebelumnya, sang istri yang sholihah ini pun akhirnya merasa harus bertanya, satu-satunya pertanyaan yang perlu diyakini olehnya: ”Allah kah yang memerintahkan ini?”  Sang suami  pun menjawab, dengan satu-satunya jawaban yang mampu dijawab. Inilah keterbatasan seorang manusia yang dipilih Allah sebagai kekasih-Nya. Dan jawabannya adalah, ”Iya”.

Ketawakalannya yang luar biasa pun ditunjukkan sang istri dengan kata-kata selanjutnya “Kalau begitu, pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kita!”

Keyakinan sang istri pun kemudian dikuatkan dalam doa oleh sang suami tercinta,

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”(Ibrahim: 37)

***

Fragmen 2

Bisa jadi kita semua pernah mendengar atau membaca kisah ini. Kisah Nabi Ibrahim yang karena perintah Allah harus meninggalkan Hajar dan anaknya Ismail di padang pasir tandus. Ketika itu untuk menjawab pertanyaan istrinya, Nabi Ibrahim bahkan hanya menjawab dengan satu kata tanpa keterangan lainnya. Istrinya pun tidak menambahkan bebannya dengan rentetan pertanyaan lanjutan. Padahal sesuai “kebiasaan” perempuan yang haus keterangan, bayangkan bila kita di posisi Hajar. Apa yang kira-kira akan kita lakukan?

Fragmen 1

Kisah ini adalah kisah nyata dari seorang teman. Seorang suami yang kebingungan. Tidak cukup bebannya harus mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lain. Harus ditambah pula dengan beban menjawab pertanyaan istrinya. Bahkan menurutnya persoalan menjawab ini lebih dahsyat daripada mencari pekerjaan baru. Apa yang kira-kira akan kita lakukan bila suami kita dalam posisi ini?

***

Bila untuk mempelajari suami, kita harus menyatukan dua fragmen ini. Maka ketika harus menjawab pertanyaan istrinya,  bisa jadi sang suami dalam fragmen 1 akan menjawab sama pendeknya dengan jawaban Nabi Ibrahim.

Bukan karena dia tak peduli. Tapi karena memang tidak punya jawaban. Dia tidak mampu memikirkan jawaban apa yang akan mampu memuaskan kekhawatiran istrinya.  Bebannya sendiri sebagai pencari nafkah dalam keluarga sudah tinggi. Belum lagi tanggungjawab atas keluarganya pada Allah dipertaruhkan.

Maka apakah pantas; bila kita, para istri malah menanyakan hal-hal yang sama sekali tidak membantu meringankan bebannya?

Bukankah kita ingin bersama menuju surga-Nya?

Bukankah kita tidak dicoba sebagaimana Hajar dicoba?

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? (Al Baqarah: 214)

Mari kita buktikan menjadi istri yang menentramkan hati suami sebagaimana diperintahkan dalam QS Ar-Rum: 21. Menghindarkan diri untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan emosional. Berusaha lebih tenang. Belajar mencari solusi bersama atas permasalahan keluarga.

Bukankah kita yakin, Allah Maha Kaya dan Maha Pemberi Kekayaan?

Ya Allah, bimbinglah kami…