Runtuhnya Sekolah Kami

Tetapi malam ini saya melihat diskusi di televisi. Benar saja, bahkan hujan besar sepanjang sore tak mampu mendinginkan hati ini. Hingga saya tidak bisa menahan diri untuk menulisnya di sini.

Ya Allah jaga lisan pena ini…

Pembahasan yang saya ikuti tidak menambah hati nyaman. Tapi saya sampaikan di awal, saya memandangnya sebagai seorang muslim bukan sekadar seorang pendidik. Saya memakai sudut pandang Islam yang pernah membimbing peradaban dunia. Sebuah sudut pandang yang tidak pernah lepas dari diri saya saat memandang apapun.

Saya simpulkan dari diskusi yang tidak menghilangkan dahaga sama sekali apalagi menghilangkan lapar dan meredam kemarahan orang seperti kami yang mencoba untuk memperbaiki semampu kami.

Dari pihak pemerintah yang melulu bicara sistem lagi dan sistem lagi. Semua sistem sudah dibuat. Termasuk hubungan antara sekolah dan orangtua murid, tapi perlu dikawal lagi.

Ya, saya dan (mungkin) anda bisa merasakan ini kalimat basi!

Pembicara lain hanya menyalahkan sekolah dan berulang kali menegaskan bahwa menghukum anak bukanlah solusi. Karena pernah ada kasus yang dihukum, toh terulang lagi. Kesimpulan yang tidak pantas dikeluarkan bahkan oleh anak SMP.

Sementara sang psikolog datang dengan penampilan rok di atas lutut (maaf saya muslim dan dalam Islam ini sangat dipermasalahkan dan dihubungkan dengan tindakan asusila). Dia hanya bisa mengatakan dengan bahasa umum bahwa masalahnya terlalu banyak.

Di sisi lain, pembahasan moral yang sempat dilontarkan oleh salah satu pembicara tidak direspon dengan antusias oleh yang lain. Yang lebih antusias dibahas adalah tentang regulasi mengunggah di dunia maya.

Sementara yang disuguhkan sebagai contoh oleh pihak pemerintah kebanyakan adalah negara kafir; Cina, Thailand dan sebagainya.

Duh, Robb…

Padahal kalau sekadar melongok KTP, status kita masih muslim. Bukankah untuk nilai seperti ini, lebih layak kita menengok negeri-negeri muslim. Karena kita sebenarnya pernah berpengalaman memberi solusi dengan cara negeri kafir yang jelas tidak sejalan dengan agama di KTP mayoritas bangsa ini. Contohnya adalah tema penanggulangan penyakit AIDS, dengan cara menebarkan ATM kondom. Ini solusi negara kafir yang boleh telanjang dan berhubungan bebas sesuai keinginan, apalagi jika suka sama suka.

Ketika hukum sebuah negara ditegakkan betul sesuai syariat Islam, tak ada yang berani melakukannya kecuali dalam jumlah yang teramat kecil. Tapi para ahli di negeri ini tidak minat untuk mendalami negara yang terlalu fanatik keislamannya.

Dan semakin jelaslah betapa agungnya syariat Islam dengan peristiwa seperti ini. Karena Islam tidak hanya bicara tentang penanganan dan pengobatan ketika kejahatan terjadi. Tetapi juga bicara tentang solusi preventif. Islam sangat menjaga sebelum kejahatan itu terjadi, agar kita tidak diletihkan oleh permasalahan tersebut. Tapi biasanya, langkah preventif Islam selalu harus didebatkan dulu di negeri ini dan ujungnya kembali disingkirkan.

Kita tahu, Islam memberi batas antara kehidupan masa kecil dan dewasa dengan baligh. Siapa yang melakukan dosa di usia baligh tidak dicatat sebagai dosa. Seperti sabda Nabi,

Diangkat pena (tidak dicatat dosa) bagi tiga orang: yang tidur sampai ia bangun, anak-anak sampai ia baligh dan gila sampai ia sadar. (HR. Abu Dawud)

Tetapi, jika dilakukan setelah baligh –berapapun usianya- maka Islam akan memberikan hukuman sesuai aturan syariat.

Di sinilah hancurnya cara pandang kita gara-gara kata remaja. Di mana di usia itu mereka rata-rata telah baligh dan telah mampu melakukan dosa apa saja. Tetapi begitu tertangkap, semua bicara atas nama anak. Perlindungan anak model inilah yang menghancurkan masa depan generasi negeri ini, karena tidak sesuai syariat Islam. Dan silakan saksikan peristiwa yang terus terulang, karena ketika mereka berbuat kejahatan dilindungi kalau perlu oleh negara. Padahal telah baligh bahkan berkali-kali mengulangi kejahatan itu. Kemudian bandingkan ulang dengan negara yang menerapkan aturan hukuman Islam  bagi yang telah baligh berapapun usianya, sebaik apa moralnya.

Dan lagi-lagi kita disuguhi oleh kekhawatiran yang muaranya adalah absennya peran keluarga dalam pendidikan. Semua diserahkan kepada sekolah. Sementara mental sekolah adalah mental kapitalis tulen dengan dalih memberi fasilitas bagi orangtua yang sibuk.

Hingga hari ini, sebutkan berapa persen sekolah yang mengadakan pendidikan bagi orangtuanya. Dan sebutkan lagi berapa persen yang ketika dipanggil orangtuanya yang datang benar-benar ibu dan bapaknya. Bukan hanya ibunya. Sekolah hanya bisa mengeluh tanpa berusaha memperbaiki sistimnya. Bahkan terkesan menikmati kecelakaan pendidikan ini, dengan semakin banyak kelas yang dibuka. Sementara orangtua merasa semakin nyaman meninggalkan anak-anak mereka.

Runtuhlah sudah sekolah kami…

Bersama runtuhnya hati kami…