Mungkin, Tangan Kita Yang Mengotori Jiwanya

(Renungan Resolusi)

Bukan latah ingin membuat resolusi baru seperti yang tepat saat ini (mungkin sedang dilakukan banyak orang di belahan dunia) ketika tulisan ini dibuat. Tapi sungguh, semangat berbagi yang tak tertahankanlah yang menginspirasinya.

***

Suatu hari, di sebuah pertemuan orangtua dan salah seorang pakar pendidikan di Indonesia yang ketika itu menjadi pembicara, terjadi percakapan berikut:

Seorang Ibu“Pak, saya mau bertanya. Anak saya usianya 14 tahun. Dia bercita-cita ingin menjadi penari. Saya perhatikan semakin ke sini dia semakin serius dengan cita-citanya itu. Saya jadi bingung dan gelisah, Pak. Saya harus bagaimana mengarahkannya?”

Pakar Pendidikan: “Memang kenapa kalau dia ingin jadi penari? Khawatir tidak sukses? Waduh, Bu. Ibu ketinggalan zaman. Lihat sendiri sekarang ini penari sudah banyak yang sukses. Lagipula ibu mau arahkan ke mana anak Ibu? Apakah menurut Ibu dia akan lebih bahagia dan sukses bila dia menjalani arahan yang Ibu inginkan? Jadi mana yang lebih penting, anak Ibu menjalankan keinginan Ibu atau dia menjalankan keinginannya sendiri dan bahagia menjalaninya?”

Sang Ibu pun manggut-manggut mencoba menerima masukan dari Sang pakar pendidikan. Namun entah kenapa, hatinya tetap gelisah.

***

Pada tulisan kali ini, kita akan mengkritisi dua hal dari percakapan di atas.

  1. Definisi sukses
  2. Ke-tidak konsisten-an orang tua

1. Definisi Sukses

Apakah sukses itu? Karena kita muslim, maka hal pertama yang kita lakukan adalah mencari definisi sukses menurut Al Quran.

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS Ali Imron: 185).

Dari ayat di atas kita belajar: sukses bukan lah sekadar kekayaan dunia, ketinggian karir, kemurnian darah bangsawan, dan kepopularan seseorang di dunia yang singkat ini. Sukses adalah ketika dia dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga.

Maka jelaslah, seharusnya seorang muslim berpegang erat pada definisi sukses yang hakiki ini. Jangan berpuas hati hanya pada kesuksesan yang fana.

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS Asy Syuuro: 20)

2.  Ke-tidak konsisten-an Orangtua

Bila orangtua gelisah ketika anaknya menghabiskan waktunya bermain game dengan gadget atau PSP dan lainnya, kenapa dibelikan semua fasilitas itu?

Bila orangtua gelisah ketika anaknya besar ingin menjadi penari, kenapa sedari kecil justru didorong dan difasilitasi dengan diikutkan kegiatan menari?

Bila orangtua gelisah ketika anaknya besar ingin menjadi musisi, kenapa sedari kecil justru dipaksa untuk les musik?

Bila orangtua gelisah ketika anaknya yang baligh tak mau menutup aurat, kenapa sedari kecil dipakaikan kepadanya rok mini dan baju tanpa lengan itu?

Bila orangtua gelisah ketika anaknya hamil di luar nikah atau menghamili, kenapa tak dilarang ketika anaknya berkhalwat?

Abu Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Seorang bayi tidak dilahirkan (ke dunia ini) melainkan ia berada dalam kesucian (fitrah). Kemudian kedua orang tuanyalah yang akan membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi”

Allah Yang Maha Adil membentangkan dua pilihan bagi jalan manusia, ”Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS Asy Syams: 9-10)

 

Ayah, Bunda yang dirahmati Allah…

Maka apakah dari tangan-tangan kitalah justru anak-anak kita terkotori jiwanya?

Tinggalkanlah kegiatan-kegiatan yang tak akan membawa nya ke surga, tempat semua puncak cita, kemenangan dan kesuksesan yang hakiki.

Mari kita buat resolusi baru:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” . (QS. Ar Ruum: 30)

 

Ya Allah bimbinglah kami…