Fa’ dalam Ayat Qowamah

Sebelum menguraikan maksud judul di atas, ijinkan saya mengatakan bahwa beginilah jadinya kalau Al Quran yang mu’jizat itu dipahami dengan bahasa aslinya, bukan dengan bahasa terjemahan. Bahasa terjemahan tentu bermanfaat sekali. Tetapi ini masalah mana yang lebih utama dan lebih banyak ilmunya. Sesungguhnya mempelajari berbagai bahasa bukan hal yang rumit buat kita. Kalau kita bersemangat mempelajari bahasa dunia kita, tidakkah kita lebih bersemangat dalam mempelajari bahasa agama kita. Sebuah renungan…

Inilah ayat Qowamah yang dimaksud,

 

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka).” (Qs. An Nisa’: 34)

Ayat ini sudah sangat sering kita bahas di Parenting Nabawiyah, mengingat pentingnya ayat ini dalam panduan keluarga. Kini kita membahasnya lagi. Bukan kalimat dan kata-katanya. Tetapi hanya satu huruf yang memberikan makna sangat dalam. Ya, hanya satu huruf: Huruf Fa’ (فـ).

Huruf Fa’ itu ada kata (فَالصَّالِحَاتُ). Dalam Bahasa Indonesia Huruf Fa’ sering diterjemahkan: Maka. Atau dalam terjemahan di atas: Sebab itu maka…

Kini mari kita pahami Huruf Fa’ ini sesuai dengan bahasa aslinya. Huruf Fa’ dalam Bahasa Arab mempunyai beberapa makna. Dengan demikian, maka tidak selalu sama arti dari Huruf Fa’ itu. Huruf Fa’ bisa mengubah harakat sekaligus arti.

Para ulama mengatakan bahwa Huruf Fa’ dalam ayat ini bermakna: Isti’naf. Karenanya harakat (فَالصَّالِحَاتُ) adalah dhommah, karena Huruf Fa’ nya Isti’naf. Apa itu Isti’naf?

Isti’naf adalah permulaan; di mana susunan kalimat sebelum Huruf Fa’ telah sempurna dan selesai, kemudian dimulailah kalimat baru tetapi terdapat hubungan antara kalimat sebelum Huruf Fa’ dan kalimat setelahnya.

Begitulah kaidahnya.

Jika kaidah ini telah kita pahami, maka berikut ini adalah penjelasan Muhammad Ath Thahir bin Muhammad yang lebih dikenal dengan Ibnu Asyur (w: 1393 H) dalam kitab tafsirnya: (Attahrir wat Tanwir),

“Fa’ dalam firman Nya: (فَالصَّالِحَاتُ) isti’naf permulaan untuk menyebutkan syariat hak-hak suami dan istri serta masyarakat keluarga.

Maka firman Nya: Kaum laki-laki adalah Qowwam bagi para wanita, adalah merupakan syariat utama yang menyeluruh. Di mana hukum-hukum pada ayat-ayat setelahnya adalah cabang dari syariat utama ini, jadi ia seperti sebuah mukaddimah.

FirmanNya (فَالصَّالِحَاتُ) merupakan cabang dari syariat utama itu. Sesuai dengan sababun nuzul yang ada pada ayat sebelumnya (An Nisa: 32). Jadi hukum yang ada pada ayat ini adalah hukum umum yang dihadirkan untuk memberikan alasan bagi hukum khusus.”

 

Inilah penjelasan dari kalimat-kalimat tersebut:

Ayat 34 dari Surat An Nisa’ ini cukup panjang mencakup beberapa pembahasan tentang keluarga. Masih bersambung temanya dengan ayat berikutnya (35). Dua ayat tersebut membahas berbagai tema tentang keluarga: Qowamah suami di atas istri, dua syarat qowamah sekaligus tugas utama suami, istri yang harus shalihah, dua ciri istri shalihah, penjagaan istri terhadap dirinya yang akan berbalas dengan penjagaan Allah terhadap suaminya di luar rumahnya, penanganan kedurhakaan istri, mengatasi konflik rumah tangga yang retak, dan peluang untuk kembali rekat rumah tangga yang retak.

Semua tema penting keluarga tersebut, dimukaddimahi dengan tema qowamahsuami atas istrinya. Pembahasan-pembahasan berikutnya adalah sub-sub bahasan yang berada di bawah tema besar Qowamah suami atas istrinya.

Adapun yang dimaksud dengan sababun nuzul ayat sebelum di ayat 32 adalah sebagai berikut,

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍلِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Disebutkan dalam Sunan Tirmidzi sebab turunnya ayat ini, dari Mujahid dari Ummu Salamah radhiallahu anha berkata,

“Ya Rasulullah, kaum laki-laki berperang sementara kaum wanita tidak. Dan kami mendapatkan setengah harta warisan. Maka Allah pun menurunkan ayat tersebut.”

Ayat ini melarang untuk terjadi saling iri antara laki dan perempuan. Karena peran yang berbeda maka hak juga berbeda. Pembahasan tentang keshalihan seorang istri merupakan sub pembahasan dari kepemimpinan suami yang mempunyai posisi lebih tinggi dalam rumah tangga. Dan tidak boleh ada rasa saling iri di atara mereka berdua, karena Allah yang lebih paham tentang pembagian tugas dan hak yang akan membahagiakan jika diikuti aturan Nya.

Dengan demikian bisa kita rasakan betapa luar biasanya peran kepemimpinan yang baik pada diri seorang suami. Qowamah yang baik itu akan berefek pada keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga.

Sebaliknya, gagal dan jatuhnya qowamah adalah retaknya rumah tangga.

Maka Huruf Fa’ pada; Wanita yang sholihah, yang berfungsi sebagai isti’nafmemberikan dua arti penting:

  1. Seorang wanita menjadi sholihah dengan upayanya dan kemandiriannya sendiri yang terpisah dari suaminya.
  2. Tetapi qowamah suami yang baik berhubungan erat dengan munculnya keshalihan seorang istri.

Wallahu A’lam

0 Comments

Leave your comment