Persendian dan Keluarga

Sendi merupakan perhubungan antartulang sehingga dapat digerakkan. Lalu, apa kaitan antara persendian dan keluarga? Ustadz Herfi Ghulam Faizi, Lc menguraikannya pada Kajian Keluarga perdana yang berlangsung setelah shalat isya, Kamis (13/3/2019). Bertempat di Masjid Darussalam, Depok.

Dalam Bahasa Arab, keluarga disebut dengan usroh. Dalam Al Quran ada kata yang memiliki kesamaan akar dengan kata usroh ini.

“Mari kita lihat bersama dalam Surah Al Insan ayat 28. Di dalamnya ada kata asro (persendian). Allah berfirman ‘Kami yang telah menciptakan mereka, dan yang mengokohkan persendian tubuh mereka…’” Ungkapnya di hadapan ratusan hadirin.

Tentu hal ini menjadi menarik untuk dikaji. Tak berlebihan apabila ada yang menyatakan bahwa keluarga adalah unit atau satuan terkecil yang merekatkan masyarakat dan Negara. Jika sakit, maka sakit semuanya. Sebuah kekuatan yang harus benar-benar diperhatikan. Berbekal ilmu agar meraih hikmah.

 

“Yang kita butuhkan bukan hanya ilmu tapi juga hikmah. Sehingga dengan hikmah orang bisa menikmati pasangannya. Meski mungkin ketampananan atau kecantikan pasangannya bukan di peringkat pertama. Dengan hikmah orang tua akan menikmati anaknya, meski terlihat kenakalannya. Dengan hikmah lawan akan menjadi kawan. Tanpa hikmah kawan akan menjadi lawan”. Urai ayah yang memiliki putri kembar ini.

 

Beliau juga menjelaskan bahwa seperempat tema dari permasalahan fiqih adalah membahas keluarga. Lagi, hal ini menujukkan betapa pentingnya keluarga. Al Quran pun mengandung Surah Ibrahim. Surah yang justru mengangkat peran Nabi Ibrahim sebagai suami dan ayah. Sebagai pasangan dan orang tua. Interaksi dengan keluarga. Untaian doa meminta pertolongan Allah ketika meninggalkan istri dan anaknya. Bukan tentang dakwahnya ataupun perihal didustai umatnya.

 

Lebih jauh, Dosen Akademi Keluarga Parenting Nabawiyyah ini meminta para hadirin untuk serius mempersiapkan generasi agar kelak lahir kembali sosok-sosok sekualitas dua shahabat Nabi yang istimewa,  Qa’qa’ bin Amr At-Tamimi dan  Barra’ bin Malik Al Anshari.

 

“Kalau ada orang-orang seperti ini, selesai urusan kita”. Tegasnya.

 

Qa’qa’ berasal dari Bani Tamim, satu keluarga dengan Abu Bakr Ash Shiddiq. Saat menyelesaikan masalah orang-orang yang murtad, Abu Bakr mengutus Khalid bin Walid sebagai panglima perang. Khalid mengirimkan surat kepada Abu Bakar sebab kota sulit dibuka seraya meminta tambahan pasukan. Abu Bakr memenuhi permintaannya, tapi bukan dengan ribuan pasukan. Hanya seorang Qa’qa. Dengan membawa amanah surat.

 

“Abu Bakr menuliskan kalimat, ‘sungguh teriakan Qa’qa’ di tengah pasukanmu lebih menakutkan daripada seribu pasukan’. Mari kita bayangkan bila anak dan cucu kita sekualitas itu!” Serunya.

 

Kemudian, apa keistimewaan Barra’ bin Malik? Padahal sosoknya kerap tak menarik perhatian. Apabila datang ke sebuah majelis, tidak menambah ramai. Dan apabila tidak datang, maka bukan masalah. Tubuhnya sangat kurus dan berkulit legam. Namun Rasulullah bersabda mengungkapkan keistimewaanya, “Sesungguhnya di tengah umatku ada yang tubuhnya berdebu, tapi jika meminta langsung dikabulkan Allah, di antaranya Barra’.” Dalam Perang Tutsar melawan Persia, pasukan Muslim lebih senang saat kedatangan Barra’ daripada ribuan pasukan lainnya.

 

“Saat kaum muslim terhimpit, mereka berteriak memanggil Barra’ menyuruhnya mengangkat tangan dan berdoa. Barra’ syahid dan juga Persia kalah perang saat itu hingga hari kiamat nanti. Sebagaimana doa yang dipanjatkannya.”. Jelasnya.

 

Beginilah generasi sentuhan Nabi. Yang dididik dengan keimanan dan ilmu. Karena itu, Beliau pun kembali mengingatkan para orang tua yang hadir untuk tidak terpaku pada lembaga sebagai sebuah institusi pendidikan.

 

“Jika membahas pendidikan, maka yang pertama kali harus dibayangkan itu bukan sekolah tapi rumah. Bermula dari keluarga.” Pungkasnya.